Tekanan Rupiah Kian Dalam, Menkeu Siapkan Langkah Darurat Jaga Pasar Obligasi

Selasa, 12 Mei 2026, 19:40 WIB

JAKARTA – Upaya meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi krusial di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan penguatan dolar AS.

Tekanan terhadap rupiah umumnya dipicu oleh keluarnya aliran modal asing, tingginya permintaan dolar untuk kebutuhan impor, serta sentimen pasar terhadap arah suku bunga global.

Ket. Foto: Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa memberikan keterangan pers usai International Seminar on Debottlenrcking Channel di kantor Kemenkeu, Jakarta, Selasa (12/5/2026). — Sumber: ANTARA/ Imamatul Silfia

Dalam kondisi seperti ini, stabilitas rupiah tidak hanya berkaitan dengan nilai tukar semata, tetapi juga memengaruhi inflasi, biaya impor, dan kepercayaan investor terhadap perekonomian domestik.

Untuk menjaga stabilitas, otoritas biasanya mengandalkan kombinasi intervensi di pasar valuta asing, penguatan instrumen moneter, serta menjaga pasokan devisa tetap memadai.

Selain itu, koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter menjadi penting agar pasar melihat adanya konsistensi dalam menjaga stabilitas ekonomi.

Jika tekanan terhadap rupiah berhasil diredam, risiko gejolak di pasar keuangan domestik dapat ditekan dan ruang pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan siap menstabilkan pasar obligasi dengan menjaga tingkat imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) guna membantu meredam tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang kini menyentuh Rp17.500 per dolar AS.

“Kita akan mulai membantu (bank sentral) besok, mungkin dengan masuk ke bond market,” kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Selasa (12/50.

Purbaya mengatakan, stabilisasi dilakukan melalui bond stabilization fund (BSF) dengan menggunakan anggaran yang tersedia serta dimungkinkan melalui mekanisme buyback.

Di tengah laju pelemahan rupiah, ia meyakini Bank Indonesia (BI) mampu menjaga stabilitas nilai tukar sesuai mandat dan kapasitas yang dimilikinya.

Adapun intervensi di pasar obligasi dilakukan untuk menahan kenaikan imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN). Purbaya mengingatkan, kenaikan yield yang berlebihan dapat memicu capital loss bagi investor asing dan mendorong arus modal keluar.

“Kita kendalikan itu supaya asing tidak keluar, atau malahan masuk kalau yield-nya membaik. Sehingga rupiah akan menguat. Kita akan masuk mulai besok,” kata dia.

Pada kesempatan tersebut, Purbaya juga memastikan perhitungan APBN masih relatif aman meski rupiah telah berada di atas asumsi APBN 2026, karena simulasi fiskal menggunakan asumsi kurs yang lebih tinggi.

Sebelumnya pada Senin (11/5), Purbaya mengatakan pemerintah masih akan mengandalkan pendanaan internal seperti kas dan Saldo Anggaran Lebih (SAL) untuk stabilisasi pasar obligasi, dan belum mengaktifkan penuh skema BSF yang melibatkan special mission vehicle (SMV) dan lembaga terkait lainnya.

Dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) pada Kamis (7/5), Purbaya juga telah menegaskan bahwa BSF bertujuan menjaga pasar surat utang tetap stabil dan tidak mudah digoyang investor asing.

Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah gejolak di pasar keuangan domestik dan membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan hari ini atau Selasa (12/5) melemah 115 poin atau 0,66 persen menjadi Rp17.529 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di level Rp17.414 per dolar AS.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.