Piala Dunia 2026 Hadir dengan 48 Tim, Drama dan Ketegangan Dipertanyakan
📅 Selasa, 12 Mei 2026, 06:00 WIB | Oleh: Benny Mudesta PutraNamun, di sisi lain, perubahan ini dinilai dapat mengurangi tensi kompetisi di fase awal. Negara-negara unggulan kemungkinan tidak lagi terlalu panik jika kalah di laga pertama.
Situasi dramatis seperti yang dialami Argentina saat tumbang dari Saudi Arabiapada fase grup Piala Dunia 2022 diperkirakan akan semakin jarang terjadi.
Begitu pula kemungkinan raksasa tersingkir lebih awal, seperti yang dialami Jerman dalam dua edisi terakhir.
Pada tahun 2022, fase grup hanya memainkan 48 pertandingan untuk menyingkirkan 16 tim. Kini, jumlah pertandingan di putaran pertama melonjak menjadi 72 laga dengan jumlah tim tersingkir tetap sama.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tim yang ingin menjadi juara juga kini harus memainkan delapan pertandingan, bukan lagi tujuh. Jadwal padat itu dinilai akan semakin membebani pemain, terutama karena turnamen digelar pada musim panas Amerika Utara yang menguras energi.
Penulis buku The Power and the Glory: A New History of the World Cup, Jonathan Wilson, menilai format 32 tim sebenarnya sudah ideal.
“Saya memahami argumen soal representasi yang lebih luas, tetapi format 32 tim itu sempurna,” ujarnya kepada AFP.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Wilson, masalah utama bukan soal kualitas tim, melainkan potensi “pengenceran spektakel” di fase grup karena terlalu banyak tim yang masih bisa lolos sebagai peringkat ketiga terbaik.
Ia bahkan memperingatkan fase grup berisiko menguji kesabaran penonton dan membuat pertandingan menjadi lebih hati-hati serta minim risiko.
Bagi tim-tim besar, prioritas utama tetap sama: memastikan tidak terpeleset sejak awal. “Anda fokus pada fase grup dan memastikan tim berada dalam kondisi mental yang tepat,” kata pelatih Thomas Tuchel.
Piala Dunia 2026 memang menjanjikan lebih banyak cerita baru dan kesempatan bersejarah bagi negara-negara kecil. Namun, publik sepak bola dunia kini menunggu satu hal penting: apakah perluasan ini akan memperkaya kompetisi, atau justru mengikis drama yang selama puluhan tahun menjadi jiwa Piala Dunia?
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!