Studi Ungkap Organisasi Indonesia Belum Siap Hadapi Ancaman Siber Berbasis AI
📅 Senin, 11 Mei 2026, 19:35 WIB | Oleh: Haryo BronoCountry Director Fortinet Indonesia, Edwin Lim, mengatakan banyak organisasi saat ini menghadapi lingkungan keamanan yang semakin kompleks. Ia menilai fragmentasi alat, keterbatasan visibilitas, serta tingginya volume alert membuat proses deteksi dan respons terhadap ancaman menjadi semakin sulit.
Menurut dia, banyak organisasi ingin memanfaatkan AI untuk meningkatkan kecepatan dan efisiensi, namun belum memiliki fondasi terintegrasi yang memadai.
“Organisasi membutuhkan arsitektur keamanan yang lebih sederhana namun terintegrasi, dengan dukungan otomatisasi dan intelijen berbasis AI agar mampu memperkuat ketahanan digital secara menyeluruh,” katanya.
Investasi terhadap AI sendiri diproyeksikan meningkat signifikan. Sebanyak 95 persen organisasi berencana menaikkan anggaran AI, dengan lebih dari separuh memperkirakan pertumbuhan dua digit. Lebih dari 60 persen responden percaya AI dapat meningkatkan akurasi deteksi ancaman, mempercepat respons, dan memperkuat postur keamanan organisasi secara keseluruhan. Namun, studi ini menegaskan bahwa pemanfaatan AI secara optimal masih terkendala lingkungan sistem yang terfragmentasi, keterbatasan otomatisasi, dan kurangnya data terpadu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Vice President Marketing and Communications APAC Fortinet, Rashish Pandey, menegaskan AI hanya akan memberikan hasil signifikan jika dibangun di atas fondasi keamanan yang terintegrasi. Tanpa visibilitas terpadu dan data yang saling terhubung, menurut dia, AI justru berpotensi memperbesar kompleksitas keamanan alih-alih menyederhanakannya.
Organisasi menaruh ekspektasi besar pada AI untuk mentransformasi operasi keamanan, mulai dari peningkatan deteksi hingga percepatan respons. Namun, AI hanya dapat memberikan hasil yang bermakna jika dibangun di atas fondasi yang terintegrasi.
“Tanpa visibilitas terpadu dan data yang terhubung lintas lingkungan, AI justru berisiko memperbesar kompleksitas alih-alih menguranginya. Integrasi adalah kunci agar AI dapat beroperasi dalam skala besar dan memberikan dampak keamanan yang nyata,” paparna.
Sebaiknya Anda baca juga:
Studi ini disusun berdasarkan survei terhadap 585 pengambil keputusan dan pihak yang berpengaruh dalam pengelolaan keamanan siber organisasi di kawasan Asia Pasifik. Survei dilakukan pada Maret 2026 untuk memetakan kesiapan organisasi menghadapi ancaman keamanan siber generasi baru berbasis AI.
Studi terbaru mengungkap ancaman siber berbasis AI melampaui kesiapan banyak organisasi di Indonesia dan Asia Pasifik. Fragmentasi sistem dan tingginya volume alert mendorong adopsi platform keamanan terpadu.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!