Risiko Pelemahan Ekonomi Bayangi Kinerja Triwulan II-2026
📅 Senin, 11 Mei 2026, 06:50 WIB | Oleh: Tim RedaksiProspek Perekonomian
JAKARTA – Pemerintah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kinerja ekonomi pada triwulan II-2026 karena dorongan musiman yang sebelumnya menopang pertumbuhan mulai mereda. Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61 persen pada triwulan I-2026 dinilai banyak terbantu momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), terutama Ramadan dan Idul Fitri, yang mendorong konsumsi rumah tangga serta perputaran uang di berbagai sektor.
Memasuki triwulan II, mesin pertumbuhan berpotensi melambat karena tidak ada katalis konsumsi sebesar periode sebelumnya. Meski terdapat momentum Idul Adha dan tahun ajaran baru, dampaknya terhadap belanja masyarakat diperkirakan tidak cukup kuat untuk menjaga akselerasi ekonomi.
Direktur Eksekutif Indef (Institute for Development of Economics and Finance), Esther Sri Astuti menilai perlambatan sektor manufaktur menjadi sinyal serius bagi ekonomi triwulan II-2026. Hal itu tercermin dari Purchasing Manufacture’s Index (PMI) Manufaktur yang masuk zona kontraksi di level 49,1 setelah sebelumnya sempat menguat pada triwulan I.
Dia memperingatkan situasi PMI Manufaktur Indonesia yang bergerak dari fase ekspansi ke kontraksi ini merupakan alarm bahwa outlook kinerja ekonomi TW II akan mengalami perlambatan. “Karena itu, di sisa 2 bulan TW II 2026 ini pemerintah harus segera mengupayakan perbaikan di sektor manufaktur, yang merupakan sektor terbesar penyumbang PDB (produk domestik bruto),” ucapnya kepada Koran Jakarta, Minggu (10/5).
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, konsistensi kebijakan ekonomi, disiplin fiskal, serta dukungan terhadap Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) dan penciptaan lapangan kerja formal dinilai penting untuk menjaga kepercayaan investor dan menopang pertumbuhan ekonomi di tengah tekanan global. Program prioritas nasional harus ‘masuk akal’ agar tidak mendilusi sentimen pasar yang masih lemah akibat kurang jelasnya arah strategi anggaran pemerintah.
Untuk itu, lanjutnya, pemerintah perlu melakukan reorientasi skala prioritas belanja dan efisiensi anggaran pemerintah pusat agar tercipta ruang fiskal yang cukup untuk menghadapi tekanan ekonomi karena geopolitik global. Selain itu, disiplin fiskal perlu terus dijaga.
“Pemerintah harus segera mengupayakan perbaikan di sektor manufaktur untuk membalikkan kondisi sektor industri yang pesimis menjadi optimis kembali, sehingga pertumbuhan ekonomi bisa terhindar dari technical recession di tiga triwulan 2026,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kinerja industri manufaktur nasional pada triwulan I-2026 menunjukkan tren positif dan tetap menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sektor industri pengolahan berkontribusi sebesar 19,07 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) dengan pertumbuhan mencapai 5,04 persen (yoy), sekaligus menjadi penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,61 persen.
Pemerintah menilai capaian tersebut didukung kebijakan yang konsisten pro-industri, meningkatnya permintaan domestik dan ekspor, serta tetap ekspansifnya indikator kepercayaan industri. Sejumlah subsektor unggulan seperti makanan dan minuman, elektronik, serta kimia dan farmasi menjadi penopang utama pertumbuhan manufaktur di tengah dinamika ekonomi global.
“Kinerja industri manufaktur tetap solid karena adanya permintaan yang meningkat, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Ini menegaskan bahwa manufaktur masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional,” ujar Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!