Sabalenka Ancam Boikot Grand Slam, Tuntut Kenaikan Jumlah Hadiah

Rabu, 06 Mei 2026, 07:17 WIB

ROMA, ITALIA — Petenis nomor satu dunia Aryna Sabalenka melontarkan pernyataan tegas terkait pembagian hadiah di turnamen tenis terbesar (Grand Slam). Ia mengaku siap memboikot ajang Grand Slam demi memperjuangkan porsi pendapatan yang lebih adil bagi para pemain.

Berbicara dalam konferensi pers di Italian Open, Sabalenka menilai kontribusi pemain terhadap kesuksesan turnamen belum dihargai secara proporsional.

Ket. Foto: Aryna Sabalenka. — Sumber: AFP

“Saya merasa pertunjukan ini ada karena kami. Tanpa kami, tidak akan ada turnamen maupun hiburan,” ujarnya. “Kami pantas mendapatkan persentase yang lebih besar.”

Petenis yang telah mengoleksi empat gelar Grand Slam itu bahkan membuka kemungkinan aksi kolektif. “Saya pikir pada titik tertentu kami akan melakukan boikot. Itu mungkin satu-satunya cara untuk memperjuangkan hak kami,” tambahnya.

Isu pembagian hadiah ini bukan hal baru. Tahun lalu, hampir seluruh pemain top menandatangani dua surat kepada penyelenggara empat Grand Slam, menuntut peningkatan hadiah, kontribusi ke dana kesejahteraan pemain, termasuk pensiun dan maternitas, serta keterlibatan dalam pengambilan keputusan.

Para pemain menargetkan porsi 22 persen dari total pendapatan turnamen, agar setara dengan sembilan turnamen level 1000 yang dikelola tur putra ATP Tour dan tur putri WTA Tour.

Namun, tidak semua pemain sepakat dengan langkah ekstrem. Petenis Polandia Iga Swiatek menilai opsi boikot terlalu berlebihan.

“Saya pikir yang paling penting adalah komunikasi yang baik dan diskusi dengan badan pengelola, agar ada ruang untuk negosiasi,” kata juara Prancis Open empat kali tersebut. Ia berharap pertemuan bisa dilakukan sebelum edisi Roland Garros berikutnya.

Ketegangan meningkat setelah penyelenggara French Open mengumumkan kenaikan hadiah sebesar 9,5 persen untuk edisi tahun ini. Para pemain menilai peningkatan tersebut belum memadai.

Data menunjukkan bahwa Roland Garros menghasilkan pendapatan 395 juta euro (sekitar 6,9 triliun rupiah) tahun lalu, naik 14 persen. Namun total hadiah hanya naik 5,4 persen, sehingga porsi untuk pemain justru turun menjadi 14,3 persen.

Dengan proyeksi pendapatan tahun ini melampaui 400 juta euro (sekitar 7 triliun rupiah), bagian yang diterima pemain diperkirakan masih di bawah 15 persen.

Pernyataan Sabalenka menandai meningkatnya tekanan dari kalangan pemain terhadap penyelenggara Grand Slam. Jika tuntutan tidak segera direspons, ancaman boikot bisa menjadi kenyataan, dan berpotensi mengguncang fondasi turnamen tenis paling prestisius di dunia.

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: AFP, Benny Mudesta Putra

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.