Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Studi: Migrasi Hiu Paus Melintasi 13 Negara dan Wilayah Laut, termasuk Indonesia

📅 Sabtu, 02 Mei 2026, 15:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Studi: Migrasi Hiu Paus Melintasi 13 Negara dan Wilayah Laut, termasuk Indonesia Doc: Konservasi Indonesia
Ket. Dua ekor hiu paus mendekat saat penelitian berlangsung.

JAKARTA - Studi yang dilakukan tim peneliti Indonesia lintas lembaga menunjukkan hiu paus (Rhincodon typus) melintasi setidaknya ke 13 negara serta wilayah laut lepas, termasuk Indonesia, sehingga perlindungannya memerlukan pendekatan yang berbeda.

Menurut keterangan diterima di Jakarta, Sabtu (2/5), menyebutkan tim peneliti terdiri atas Konservasi Indonesia, Elasmobranch Institute Indonesia, Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, serta Conservation International menganalisis data pelacakan satelit periode 2015-2025 terhadap 70 individu hiu paus di empat lokasi agregasi utama di Indonesia, yaitu Teluk Cenderawasih di Papua Tengah, Kaimana di Papua Barat, Teluk Saleh di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Teluk Tomini di Gorontalo, serta pergerakannya di kawasan Indo-Pasifik.

"Kini kita tidak hanya tahu di mana hiu paus muncul, tetapi juga bagaimana mereka bergerak dan faktor apa yang mendorong pergerakan mereka. Ini menunjukkan bahwa pengelolaan tidak bisa hanya berbasis lokasi saja, melainkan harus melihat keseluruhan ekosistem laut yang saling terhubung," ujar Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia Iqbal Herwata yang memimpin penelitian itu.

Dia mengatakan studi baru tersebut mengubah cara pandang terhadap konservasi hiu paus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hiu paus tidak hanya bergantung pada satu lokasi. Mereka berpindah dari wilayah pesisir ke laut lepas, mengikuti ketersediaan makanan dan kondisi lingkungan laut.

Hasil penelitian itu menunjukkan bahwa habitat yang digunakan hiu paus memiliki fungsi yang berbeda. Di wilayah agregasi seperti Teluk Saleh, perilaku hiu paus didominasi oleh aktivitas mencari makan yang relatif stabil sepanjang tahun.

Sementara itu, perairan yang lebih luas hingga laut lepas berfungsi sebagai koridor migrasi sekaligus area mencari makan secara oportunistik, terutama ketika daya dukung di lokasi agregasi tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan dan variasi mangsa bagi hiu paus.

Iqbal menjelaskan hanya sedikit lokasi yang benar-benar mendukung keberadaan hiu paus sepanjang tahun riset dilakukan. Dua diantaranya adalah Teluk Cenderawasih dan Teluk Saleh, yang dinilai sebagai habitat kunci yang tidak tergantikan.

Hasil riset itu juga memperlihatkan bahwa sebagian besar wilayah yang dilalui hiu paus justru berada di luar kawasan perlindungan. Mereka bergerak melintasi setidaknya ke 13 negara serta wilayah laut lepas yang pengelolaannya masih terbatas.

Pergerakan hiu paus mencakup kawasan lintas negara, yakni, Australia, Christmas Island, Timor Leste, Kepulauan Gilbert, Guam, Indonesia, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Nauru, Palau, Papua Nugini, Filipina, dan Kepulauan Solomon, serta kawasan luas di luar yurisdiksi nasional atau laut lepas.

Dengan perannya sebagai hub konektivitas hiu paus di Indo-Pasifik, Indonesia berada pada posisi unik untuk mendorong kebijakan konservasi yang tidak hanya berdampak nasional, tetapi juga memperkuat kerja sama regional hingga lintas 13 negara.

Guru Besar Bidang Oseanografi dari Universitas Diponegoro yang menjadi salah satu penulis dalam studi itu, Anindya Wirasatriya menambahkan hiu paus memanfaatkan dinamika laut layaknya jaringan jalan tol alami.

"Arus dan produktivitas perairan mengarahkan pergerakan mereka, sementara area tertentu berfungsi sebagai ‘rest area’ tempat mereka berhenti untuk mencari makan. Ini menunjukkan bahwa perlindungan tidak bisa hanya fokus di satu lokasi, tetapi harus mencakup sistem laut yang saling terhubung," kata Anindya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan dengan memahami pola pergerakan ini, tim peneliti menilai bahwa upaya mitigasi risiko dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran.

Informasi spasial mengenai jalur migrasi dan habitat penting dapat digunakan untuk mengurangi tangkapan, mengatur lalu lintas kapal guna meminimalkan tabrakan, serta merancang pariwisata bahari yang lebih berkelanjutan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dollar Pagi Ini, Dibayangi Tekanan Global dan Domestik

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.