Rayakan HUT ke-248, Museum Nasional Gelar Pameran Lampu dan Pameran Numismatik
📅 Sabtu, 25 Apr 2026, 09:15 WIB | Oleh: Lili Lestari
Doc: ANTARA
JAKARTA - Pengelola Museum Nasional Indonesia di Jakarta Pusat menyelenggarakan pameran lampu bertajuk "Pendar: Kilas Terang Meretas Bayang" dan pameran numismatik dalam rangkaian acara peringatan ulang tahun ke-248 museum.
Pameran "Pendar: Kilas Terang Meretas Bayang" yang dimulai pada Jumat menampilkan koleksi lampu mulai dari abad ke-9 Masehi, yang merefleksikan perkembangan teknologi serta budaya masyarakat pada masanya.
Koleksi lampu dalam pameran tersebut juga mencerminkan kondisi sosial, praktik religius, serta gaya hidup masyarakat pada masa lalu.
Dengan pendekatan kuratorial yang menggabungkan aspek estetika dan spiritualitas, beragam bentuk lampu yang dibuat menggunakan berbagai teknik metalurgi ditampilkan.
Pengunjung seperti diajak melihat bagaimana lampu menjadi bagian dari narasi perjalanan peradaban dalam pameran "Pendar: Kilas Terang Meretas Bayang."
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, pameran numismatik menampilkan sejarah mata uang di Indonesia, memperlihatkan peran uang sebagai alat tukar sekaligus artefak yang menunjukkan nilai, kekuasaan, dan identitas dalam suatu periode sejarah.
Koleksi uang yang ditampilkan mencakup berbagai era, mulai dari masa Hindu-Buddha, Kesultanan Islam, kolonial Eropa dan Jepang, sampai masa kemerdekaan Indonesia.
Di antara uang yang dipamerkan ada uang gobog wayang, koin emas Syailendra setengah potong, mohur, uang kasha Banten beraksara Arab, serta doit.
Sebaiknya Anda baca juga:
Museum Nasional Indonesia buka pukul 08.00 hingga 18.00 WIB dari Selasa hingga Kamis serta pukul 08.00 hingga 20.00 WIB pada Jumat dan Minggu.
Pengunjung museum bisa mengakses ruang pameran di lantai 2 Gedung A Museum Nasional Indonesia dengan tiket masuk reguler. Namun, jumlah pengunjung ruang pameran dibatasi 30 orang per sesi dengan durasi kunjungan 30 menit.
Kepala Museum dan Cagar Budaya Esti Nurjadin menyampaikan bahwa penyelenggaraan pameran merupakan bagian dari upaya untuk menghadirkan koleksi museum sebagai narasi yang hidup.
Ia mengatakan, museum bukan hanya tempat penyimpanan benda bersejarah, melainkan medium untuk memahami perjalanan, nilai, dan identitas bangsa.
"Melalui pendekatan ini, diharapkan museum semakin relevan dan dekat dengan masyarakat," katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!