Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kemarau Mengintai, Pembudi Daya Ikan di Cilacap Diminta Siaga

📅 Rabu, 22 Apr 2026, 20:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Kemarau Mengintai, Pembudi Daya Ikan di Cilacap Diminta Siaga Doc: ANTARA/ Sumarwoto
Ket. Ilustrasi - Tambak udang vaname yang dikelola Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan di Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, Selasa (9/9/2025).

CILACAP – Imbauan agar pembudi daya ikan mengantisipasi musim kemarau panjang mencerminkan meningkatnya risiko produksi akibat perubahan pola iklim.

Penurunan volume air, kenaikan suhu, serta penurunan kualitas air seperti kadar oksigen terlarut dapat memicu stres pada ikan dan meningkatkan potensi kematian massal.

Kondisi ini tidak hanya mengganggu siklus produksi, tetapi juga berpotensi menekan pasokan dan memicu kenaikan harga di pasar.

Dalam konteks ini, strategi adaptasi menjadi krusial, mulai dari pengelolaan padat tebar, penggunaan teknologi aerasi, hingga pengaturan pola pakan dan siklus panen.

Diversifikasi sumber air serta pemanfaatan sistem budidaya yang lebih efisien juga menjadi langkah penting untuk menjaga produktivitas di tengah keterbatasan air.

Lebih jauh, fenomena ini menegaskan bahwa sektor perikanan budidaya semakin bergantung pada kemampuan mitigasi risiko iklim.

Tanpa kesiapan yang memadai, kemarau panjang tidak hanya berdampak pada pelaku usaha, tetapi juga berimplikasi pada stabilitas pasokan pangan berbasis protein ikan secara nasional.

Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, meminta pembudi daya ikan mengantisipasi musim kemarau panjang yang diperkirakan terjadi pada tahun ini dengan menyiapkan berbagai langkah adaptasi sejak dini.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Cilacap Indarto di Cilacap, Jateng, Rabu (22/4), mengatakan salah satu langkah penting yang perlu diperhatikan adalah pengaturan waktu penebaran benih ikan agar tidak dilakukan saat puncak musim kemarau.

"Penebaran benih perlu dipersiapkan dengan baik, jangan sampai dilakukan saat musim kemarau. Kalau sebelumnya sudah disiapkan, hasilnya bisa lebih optimal," katanya.

Selain pengaturan waktu tebar, kata dia, pembudi daya juga diminta menyiapkan sumber air alternatif, terutama bagi wilayah yang selama ini rawan mengalami kekeringan.

Dalam hal ini, penyediaan tandon air maupun pemanfaatan sumber air cadangan dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan usaha budidaya.

Menurut dia, kesiapan sumber air menjadi salah satu faktor krusial dalam menghadapi musim kemarau karena ketersediaan air akan sangat memengaruhi kualitas lingkungan budi daya.

"Di daerah yang rawan kering perlu ada upaya pengadaan air alternatif, misalnya melalui tandon atau sumber lain yang memungkinkan," katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Daerah
Produk UMKM Dipromosikan Le...
Wisata
Prosesi adat kansoda'a di W...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.