Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Hati-hati, Pertambahan Populasi RI Sudah Melampaui Pertumbuhan Warga Dunia

📅 Rabu, 22 Apr 2026, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Hati-hati, Pertambahan Populasi RI Sudah Melampaui Pertumbuhan Warga Dunia Doc: antara
Ket. Bonus demografi berdampak positif apabila penduduk usia produktif mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi.

» Bonus demografi berdampak positif apabila penduduk usia produktif mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi.

» Penduduk makin banyak makin perlu air, pangan dan energi, pada akhirnya akan melebihi kapasitas dunia untuk melayaninya.

JAKARTA - Laju pertumbuhan penduduk Indonesia yang lebih tinggi dari rata-rata dunia tidak otomatis menjadi keuntungan apabila tidak diikuti peningkatan produktivitas. Tanpa peningkatan kualitas tenaga kerja, tambahan jumlah penduduk justru berpotensi menjadi beban ekonomi.

Pengamat ekonomi dari STIE YKP Yogyakarta, Aditya Hera Nurmoko mengatakan

bonus demografi hanya akan memberikan dampak positif apabila penduduk usia produktif mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih tinggi.

“Kalau jumlah penduduk bertambah tetapi produktivitas stagnan, maka yang terjadi adalah tekanan terhadap ekonomi rumah tangga dan negara, bukan pertumbuhan,” kata Aditya, Selasa (21/4).

Salah satu sektor yang paling terdampak jelasnya adalah pangan. Kebutuhan konsumsi akan meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk, sementara kapasitas produksi belum tentu bertumbuh dengan kecepatan yang sama. Kondisi itu berisiko menimbulkan ketidakseimbangan antara supply dan demand, yang pada akhirnya dapat mendorong kenaikan harga pangan.

Persoalan itu tidak hanya terkait produksi, tetapi juga efisiensi distribusi dan ketersediaan lahan. Tekanan terhadap daya dukung lingkungan pun akan semakin besar apabila tidak ada strategi yang jelas dalam menjaga produktivitas sektor pertanian.

“Kita menghadapi situasi di mana lahan terbatas, tetapi jumlah yang harus diberi makan terus bertambah,” katanya.

Karena itu, ia mendorong pemerintah untuk tidak hanya fokus pada pengendalian jumlah penduduk, tetapi juga pada peningkatan kualitas sumber daya manusia dan produktivitas sektor pangan.

Menurutnya, tanpa intervensi yang tepat, pertumbuhan penduduk yang tinggi justru dapat memperbesar risiko ketahanan pangan dan memperlemah stabilitas ekonomi jangka panjang.

Bencana Alam

Sebelumnya, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) Rachmat Pambudy mengatakan kecepatan pertumbuhan populasi Indonesia berada di atas rata-rata dunia.

“Sekarang penduduk dunia sudah di atas 8 miliar, dan penduduk Indonesia sudah di atas 280 juta jiwa. Kalau mengikuti tren peningkatan penduduk dunia, seharusnya kita ini hanya 240 juta saja. Berarti kecepatan pertumbuhan populasi kita di atas rata-rata dunia. Nah, kalau di atas rata-rata dunia maka kita pun harus hati-hati,” ungkap Rachmat dalam agenda Peluncuran Country Programme Implementation Plan (CPIP) Program Kerja Sama Indonesia-UNFPA (United Nations Population Fund) Siklus 11 di Jakarta, Selasa (21/4).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Hendak Terbang, Warga AS Di...
Megapolitan
Seorang Tentara AS yang Ter...
Luar Negeri
Bantu Rumah Tangga, Jepang ...
Luar Negeri
PBB Mendesak Transpransi Je...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.