Pendidikan Kaltim Tak Dapat Lepas dari Dua “Kartini”
📅 Selasa, 21 Apr 2026, 10:08 WIB | Oleh: Tim PenulisGaya mengajar Aminah dikenal penuh dedikasi. Ia tak hanya mentransfer ilmu di jam-jam sekolah formal. Kediamannya kerap menjadi tempat bagi murid-muridnya untuk mendapatkan les privat, yang terus ia jalani dengan telaten hingga usianya senja.
Dari tangan pendidikannya lahir tokoh-tokoh penting yang kelak membangun daerah, di antaranya Lasiah Sabirin dan pionir politik, Djumantan Hasyim.
Penghormatan Pemerintah Kotamadya Samarinda pada 1970, dengan memindahkan makamnya ke TMP Kusuma Bangsa, menjadi penegasan atas jasa-jasanya.
Kini, namanya abadi, tak hanya terpatri sebagai nama salah satu jalan protokol Kota Samarinda, tetapi juga sebagai nama institusi pendidikan, memastikan bahwa semangatnya dalam mencerdaskan anak bangsa tak pernah padam.
Sebaiknya Anda baca juga:
Nyonya Lo Beng Long, donatur perintis Universitas Mulawarman
Jika Aminah Syukur meletakkan fondasi pada pendidikan dasar dan menengah, maka di jenjang pendidikan tinggi, sejarah mencatat sumbangsih luar biasa dari seorang perempuan Tionghoa.
Deru pembangunan Kalimantan Timur pascakemerdekaan pun tidak semata diwarnai oleh tokoh-tokoh etnis lokal, melainkan menjadi sebuah orkestrasi akulturasi dari beragam latar belakang, termasuk kontribusi Lo Beng Long.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dikenal pula dengan nama Indonesianya, Dorinawati Samalo, ia adalah ibu dari Ronald Lolang —pengusaha bioskop yang mendirikan Bioskop Mahakama, nama yang melegenda di Benua Etam.
Namun, warisan terbesar Dorinawati bukanlah bisnis hiburan keluarganya, melainkan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan.
Jauh sebelum wacana pendirian kampus mencuat, Dorinawati telah menunjukkan sikap progresif. Ia terlibat aktif mendukung gerakan kaum Republiken di Samarinda. Dalam catatan wartawan Gemar Dachlan, pada peringatan HUT Proklamasi 17 Agustus 1948 yang sarat risiko di Gedung Nasional Samarinda, nama Dorinawati tercatat sebagai salah satu tokoh yang hadir dan memberikan dukungan nyata bagi Republik.
Memasuki awal 1960-an, keresahan melanda kalangan pemuda dan tokoh masyarakat Kalimantan Timur. Di bawah kepemimpinan Gubernur Abdoel Moeis Hassan (1962–1966), muncul pertanyaan mendasar dari tokoh pendidikan seperti Abdul Samad dan Ence Shamad: mengapa anak-anak Kaltim yang ingin menempuh pendidikan tinggi harus selalu merantau ke Jawa atau Sulawesi? Kegelisahan ini kemudian bermuara pada inisiatif mendirikan perguruan tinggi sendiri.
Gubernur Abdoel Moeis Hassan mengarahkan mereka untuk menemui Dorinawati guna mendiskusikan gagasan tersebut—dan gayung pun bersambut.
Pada 1962, Yayasan Perguruan Tinggi Mulawarman (PTM) dibentuk sebagai embrio kampus andalan Kalimantan Timur. Dalam susunan kepengurusan, Dorinawati dipercaya menjabat sebagai bendahara.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!