Korea Utara Uji Coba Rudal Balistik Terbaru dari Kawasan Sinpo di Pantai Timur

Minggu, 19 Apr 2026, 16:40 WIB

JAKARTA - Korea Utara kembali menembakkan rudal balistik ke arah laut pada Minggu, menandai peningkatan aktivitas militer di tengah dinamika geopolitik global yang semakin memanas. Peluncuran ini menjadi yang keempat dalam bulan ini dan ketujuh sepanjang 2026.

Langkah tersebut dinilai sebagai upaya Pyongyang menunjukkan kemampuan pertahanan diri sekaligus memperkuat posisi tawar di panggung internasional. Sejumlah analis menilai uji coba rudal ini juga berkaitan dengan eskalasi konflik global, termasuk perang yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran.

Ket. Foto: Korea Utara kembali menembakkan rudal balistik ke arah laut pada Minggu, menandai peningkatan aktivitas militer di tengah dinamika geopolitik global yang semakin memanas. Peluncuran ini menjadi yang keempat dalam bulan ini dan ketujuh sepanjang 2026. — Sumber: Reuters

Mantan penasihat keamanan presiden Korea Selatan, Kim Ki-jung, menyebut peluncuran rudal ini sebagai sinyal kekuatan. Ia menilai Korea Utara ingin menunjukkan kapasitas militernya di tengah situasi global yang tidak stabil.

"Peluncuran rudal mungkin merupakan cara untuk menunjukkan bahwa tidak seperti Iran, kami memiliki kemampuan membela diri," ujar Kim.

Ia menambahkan, langkah tersebut juga menjadi tekanan awal sebelum kemungkinan dialog dengan Amerika Serikat dan Korea Selatan. Pyongyang dinilai ingin masuk ke meja perundingan dengan posisi yang lebih kuat.

Militer Korea Selatan menyebut rudal diluncurkan dari wilayah Sinpo di pantai timur sekitar pukul 06.10 waktu setempat. Proyektil tersebut terbang sejauh kurang lebih 140 kilometer sebelum jatuh ke laut.

Pemerintah Jepang menyatakan rudal kemungkinan jatuh di perairan dekat Semenanjung Korea. Namun, tidak ada laporan pelanggaran zona ekonomi eksklusif Jepang.

Pihak Istana Kepresidenan Korea Selatan langsung menggelar rapat darurat. Peluncuran ini disebut sebagai provokasi yang melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB dan diminta untuk segera dihentikan.

Di tengah ketegangan tersebut, peluang dialog masih terbuka. Presiden AS Donald Trump dan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung sebelumnya menyatakan minat untuk membuka komunikasi dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Namun, hingga kini belum ada kepastian mengenai jadwal pertemuan. Situasi ini membuat kawasan tetap berada dalam ketidakpastian antara konfrontasi dan diplomasi.

Sementara itu, International Atomic Energy Agency menyebut Korea Utara telah membuat kemajuan signifikan dalam pengembangan senjata nuklir. Kepala IAEA Rafael Grossi bahkan mengindikasikan kemungkinan adanya fasilitas baru untuk pengayaan uranium.

Dengan rangkaian uji coba yang terus berlanjut, Korea Utara menegaskan bahwa penguatan kemampuan nuklir tetap menjadi prioritas utama. Di sisi lain, dunia internasional terus memantau apakah langkah ini akan berujung pada eskalasi konflik atau justru membuka jalan bagi negosiasi baru.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Paundra Zakirulloh

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.