- Home
-
- Luar Negeri
-
- Setelah Blokade, AS Kembal...
Setelah Blokade, AS Kembali Membuka Selat Hormuz Secara Permanen
Jumat, 17 Apr 2026, 01:05 WIBWASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan membuka Selat Hormuz secara permanen. Dia mengklaim melakukan langkah itu untuk Tiongkok dan dunia. Trump juga mengatakan Beijing telah setuju untuk tidak mengirim senjata ke Iran.
Awalnya Trump mengumumkan blokade jalur air vital itu pada hari Minggu setelah pembicaraan yang dimediasi Pakistan gagal menghasilkan kesepakatan damai dengan Iran, di mana Selasa, Komando Pusat AS melaporkan bahwa kapal perang Amerika telah secara efektif memblokir semua perdagangan Iran melalui selat tersebut.
Namun, pada hari Rabu, Trump menyatakan dalam sebuah unggahan Truth Social bahwa Tiongkok sangat senang setelah dia membuka Selat Hormuz secara permanen.
âSaya melakukan ini untuk mereka juga dan untuk Dunia,â tambah Trump.
Trump kemudian menyatakan bahwa Beijing telah setuju untuk tidak mengirim senjata ke Iran. Kata Trump, Presiden Tiongkok, Xi Jinping akan memberinya pelukan hangat, jika dia sampai di sana dalam beberapa minggu ke depan.
Trump sendiri dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke Tiongkok pada 14 Mei. Sementara Xi Jinping diperkirakan akan mengunjungi Washington untuk kunjungan balasan di kemudian hari.
Meski begitu, Tiongkok belum menanggapi pesan terbaru pemimpin AS tentang pembukaan kembali selat tersebut. Tetapi sebelumnya telah berulang kali membantah laporan tentang pemberian dukungan militer apa pun kepada Iran.
Pada Selasa, Tiongkok sempat menyebut tudingan bantuan senjata ke Iran dari Trump adalah perilaku berbahaya dan tidak bertanggung jawab. Ini juga dirujukkan untuk langkah AS yang blokade kapal-kapal Iran.
Iran sendiri menutup Selat Hormuz bagi âkapal musuhâ sebagai tanggapan terhadap kampanye pengeboman AS-Israel yang diluncurkan pada 28 Februari. Sejak itu, Teheran menuntut pengakuan atas kedaulatannya atas jalur air tersebut dan hak untuk mengenakan bea masuk.
Kebebasan Navigasi
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Jerman, Johann Wadephul menyatakan bahwa gagasan mengenakan tarif bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz tidak dapat diterima dan menegaskan pentingnya kebebasan navigasi di jalur tersebut.
âTidak dapat diterima jika jalur laut seperti Selat Hormuz dikendalikan oleh negara tertentu dan dikenakan tarif. Hal ini tidak dapat diterima, dan kami akan menegaskan pemulihan penuh kebebasan navigasi di Selat Hormuz,â kata Wadephul dalam konferensi pers di Berlin, Rabu (15/4).
Ia menambahkan bahwa memastikan kebebasan transit di Selat Hormuz tidak hanya menjadi kepentingan negara-negara Teluk Persia dan negara-negara Asia di sekitarnya, tetapi juga seluruh komunitas internasional.
Redaktur: Vitto Budi
Penulis: Antara, Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Cristiano Ronaldo Tinggalkan Timnas Portugal Jelang Lawan Denmark, Ada Apa?
-
DPR Dukung Moratorium Smelter Nikel Setengah Jadi, Ini Alasannya
-
Blue Fire Papandayan, Bahaya Gas Beracun Tapi Bisa Jadi Wisata Baru
-
Sudin KPKP Jaksel Dorong Pangan Lokal jadi Peluang Usaha Warga
-
Film Komedi Cidro Asmoro Diramaikan Ndarboy dan Happy Asmara
-
Jakarta Diprediksi Hujan pada Kamis Ini, BMKG Ungkap Waktu yang Perlu Diwaspadai
-
Mencegah Meluasnya Api di TPAS Gunung Santri Cirebon
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.