Bank Dunia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI, Berikut Respons Menkeu Purbaya
📅 Kamis, 09 Apr 2026, 18:50 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa merespons revisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia oleh Bank Dunia. Meski demikian, pemerintah tetap melihat ruang optimisme melalui penguatan konsumsi domestik dan akselerasi belanja negara sebagai penopang utama.
Respons ini sekaligus menunjukkan pendekatan kehati-hatian fiskal, di mana pemerintah tidak hanya mengakui risiko perlambatan, tetapi juga berupaya menjaga momentum pertumbuhan agar tidak turun lebih dalam dari proyeksi yang telah direvisi.
Menurut dia, perhitungan Bank Dunia dalam memandang ekonomi Indonesia kurang tepat. Dalam hal ini, Purbaya lebih berfokus untuk menjalankan sejumlah strategi guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Yang penting bagi kita adalah memastikan program-program yang memang baik, sistem keuangan siap untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan iklim investasi membaik,” kata Purbaya saat ditemui di Jakarta, Kamis (9/4).
Ia meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia bakal kembali menguat seiring upaya pemerintah menjaga stabilitas dan mendorong investasi. Menurut dia, apabila harga minyak dunia kembali normal, Bank Dunia akan mengubah lagi prediksinya.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Saya pikir dengan usaha seperti itu, nanti pertumbuhan ekonomi akan berbalik. Saya yakin World Bank menghitung itu karena dampak harga minyak tinggi. Kalau sebulan dari sini harga minyak turun ke level normal lagi, World Bank pasti akan berubah prediksinya,” ujarnya.
Bendahara negara itu juga menyebut bahwa Bank Dunia dalam mengkaji pertumbuhan ekonomi belum sepenuhnya mempertimbangkan strategi pemerintahan Prabowo Subianto dalam menjaga pertumbuhan ekonomi.
“Mungkin World Bank belum tahu jurus-jurus rahasia (strategi ekonomi) saya, dan jurus-jurus rahasia Pak Prabowo,” jelasnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Adapun Bank Dunia dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026 menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen pada 2026, lebih rendah dibandingkan proyeksi Oktober 2025 sebesar 4,8 persen.
Dalam laporan tersebut, perlambatan dipengaruhi oleh tekanan eksternal, terutama kenaikan harga minyak global serta meningkatnya sentimen kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional (risk-off sentiment).
Bank Dunia juga mencatat bahwa dampak tekanan sebagian dapat diimbangi oleh pendapatan komoditas dan inisiatif investasi yang didorong pemerintah.
Indonesia dinilai masih memiliki penyangga ekonomi, termasuk dari ekspor komoditas, yang dapat meredam dampak kenaikan biaya energi dalam jangka pendek.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!