El Nino Ancam Produksi Pangan Nasional
📅 Rabu, 01 Apr 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim RedaksiDiperlukan langkah antisipatif seperti percepatan masa tanam, penggunaan varietas tahan kekeringan, serta optimalisasi sumber daya air guna menjaga ketahanan pangan tetap stabil.
Purwokerto – Fenomena El Nino berpotensi menekan produksi pangan nasional akibat musim kemarau yang lebih panjang dan suhu yang meningkat. Kondisi ini dapat mengganggu pertumbuhan tanaman karena kekurangan air dan stres panas, sehingga berisiko menurunkan hasil panen bahkan memicu gagal panen di sejumlah wilayah.
Pakar pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Prof Totok Agung Dwi Haryanto mengingatkan potensi penurunan produksi pangan akibat fenomena El Nino yang diperkirakan memicu musim kemarau lebih panjang dan suhu lebih panas dari kondisi normal.
“Fenomena El Nino akan menyebabkan musim kemarau memanjang, sehingga berdampak pada pertumbuhan dan produksi tanaman, khususnya tanaman pangan dan hortikultura,” kata Prof Totok di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa (31/3).
Seperti dikutip dari Antara, menurut Totok, gangguan sektor pertanian umumnya dipicu dua faktor utama, yakni kekurangan air dan peningkatan suhu udara. Kombinasi keduanya dapat menyebabkan stres tanaman, menghambat pertumbuhan, hingga berujung pada gagal panen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski demikian, hingga akhir Maret curah hujan di Jawa Tengah masih relatif tinggi sehingga tanda awal musim kemarau belum terlihat jelas. Oleh karena itu, ia menilai diperlukan prediksi yang lebih akurat terkait awal kekeringan agar langkah antisipasi dapat dilakukan tepat waktu.
“Perlu kepastian kapan kekeringan mulai terjadi, sehingga petani bisa menyesuaikan pola tanam dan memilih jenis tanaman yang lebih toleran terhadap kondisi kering,” katanya.
Dalam menghadapi potensi tersebut, Prof Totok mendorong petani mulai mengembangkan varietas tanaman tahan kekeringan seperti padi gogo. Ia juga menekankan pentingnya kesiapan benih untuk mendukung percepatan masa tanam, mengingat prediksi kemarau panjang sudah disampaikan sejak lama.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut dia, percepatan masa tanam pada musim tanam kedua (MT II) menjadi strategi penting agar tanaman dapat tumbuh optimal sebelum puncak kemarau.
“Pembibitan bisa dilakukan lebih awal, bahkan sebelum panen musim tanam pertama, sehingga setelah panen lahan bisa langsung diolah dan ditanami kembali,” ujarnya.
Selain itu, pengelolaan sumber daya air menjadi faktor krusial. Pemanfaatan sumur dan pompa air perlu dioptimalkan untuk menjaga ketersediaan air. Dalam hal ini, ketersediaan bahan bakar minyak (BBM), khususnya solar, sangat penting untuk mendukung operasional alat pertanian.
“Perlu ada kebijakan yang memudahkan petani mendapatkan BBM dengan harga terjangkau, misalnya melalui skema subsidi atau distribusi khusus ke wilayah pertanian,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga distribusi air melalui jaringan irigasi. Perbaikan saluran yang mengharuskan pengeringan sebaiknya dibatasi saat musim kemarau.
Relatif Stabil
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!