Tradisi Syawalan di Pekalongan, Potong Lopis Jadi Simbol Perekat Silaturahmi Warga Krapyak
📅 Jumat, 27 Mar 2026, 11:52 WIB | Oleh: Tim PenulisPada mulanya, KH Abdullah Sirodj secara rutin melaksanakan puasa Syawal. Praktik ibadah ini kemudian diikuti masyarakat Krapyak dan warga Pekalongan pada umumnya. Akibatnya, meskipun suasana Lebaran telah tiba, tradisi bersilaturahmi belum sepenuhnya dilakukan sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang masih melanjutkan puasa Syawal.
Barulah pada hari kedelapan Syawal, atau Sabtu (28/3), suasana Lebaran benar-benar terasa hidup di tengah masyarakat.
Tradisi Syawalan sendiri memiliki akar panjang dalam sejarah Islam di Jawa. Sejumlah literatur menyebutkan bahwa Syawalan berkembang sejak masa dakwah Wali Songo, ketika para ulama memadukan ajaran Islam dengan kearifan lokal agar lebih mudah diterima masyarakat.
Di Pekalongan yang sejak abad ke-17 dikenal sebagai kota pelabuhan dan pusat pertemuan berbagai budaya, tradisi ini tumbuh kuat sebagai ruang silaturahmi lanjutan setelah Idul Fitri sekaligus ungkapan syukur atas berakhirnya Ramadan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tak heran jika lopis kemudian menjadi sajian utama. Berbeda dengan daerah lain, lopis khas Pekalongan dikenal berukuran besar dan dimasak dalam waktu panjang, bahkan hampir satu hari penuh.
Proses tersebut bukan sekadar teknik memasak, melainkan juga mencerminkan nilai kesabaran dan ketekunan, dua prinsip hidup yang dijunjung tinggi oleh masyarakat pesisir.
Wali Kota Pekalongan, Afzan Arslan Djunaid, mengimbau masyarakat agar tidak memaknai tradisi pemotongan lopis secara keliru hingga mengarah pada praktik syirik. Menurutnya, tradisi lopisan justru menjadi warisan budaya yang menghadirkan keberkahan dan kebahagiaan, khususnya bagi warga Krapyak sebagai tuan rumah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tradisi pemotongan lopis yang telah berlangsung lebih dari satu abad ini diharapkan dapat dikemas semakin meriah. Selain menjadi ajang silaturahmi, perayaan tersebut juga dinilai sebagai aset potensial untuk menarik kunjungan wisatawan.
Dengan demikian, tradisi Syawalan yang dipadukan dengan sektor pariwisata diharapkan mampu mendorong peningkatan pendapatan asli daerah.
Sementara itu, Humas Festival Lopis Raksasa, Iwan Kurniawan, menjelaskan bahwa proses pembuatan lopis telah dimulai sejak Senin (23/3) dan dilakukan secara bertahap hingga mencapai tahap akhir.
"Pembuatan dimulai hari Senin pukul 06.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB. Kemudian dilanjutkan lagi hingga malam berikutnya untuk proses pembalikan dan nantinya akan dilakukan pengentasan," katanya.
Secara keseluruhan, proses pembuatan lopis raksasa ini memakan waktu sekitar tiga hari penuh atau 3 x 24 jam. Seluruh tahapan dikerjakan dengan ketelitian tinggi dan kekompakan warga, mengingat ukuran lopis yang jauh lebih besar dibandingkan lopis pada umumnya.
Lopis bukan sekadar makanan tradisional. Panganan ini menjadi medium yang menghubungkan masa lalu dan masa kini, menyatukan nilai religius, sosial, dan budaya dalam satu sajian yang tampak sederhana, namun sarat makna.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!