Filipina Pacu Pembicaraan Energi dengan Tiongkok

Rabu, 25 Mar 2026, 02:45 WIB

MANILA – Presiden Filipina, Ferdinand Marcos Jr, terbuka untuk memulai kembali pembicaraan dengan Beijing mengenai proyek minyak dan gas bersama dalam sebuah wilayah Laut Tiongkok  Selatan (LTS) yang disengketakan, dan mengatakan bahwa perang di Iran mungkin memberikan dorongan untuk sebuah terobosan.

Sebelumnya pada tahun 2023, Presiden Marcos Jr dan Presiden Tiongkok Xi Jinping sepakat untuk melanjutkan diskusi mengenai pengembangan minyak dan gas bersama di jalur air, yang telah terhenti selama bertahun-tahun.

Ket. Foto: Sebuah kapal AL Tiongkok melintas dari kejauhan saat kapal nelayan Filipina berlayar di perairan  Scarborough Shoal di LTS pada September lalu. Pada Selasa (24/3), Presiden Marcos Jr menyatakan bahwa perang Timur Tengah dapat memacu pembicaraan energi dengan Tiongkok di laut yang disengketakan. — Sumber: AFP/Ted ALJIBE

“Itu adalah sesuatu yang telah kita bicarakan untuk banyak hal, tetapi sengketa wilayah menghalangi itu,” ucap Presiden Marcos  Jr pada Selasa (24/3).

“Mungkin ini memberikan dorongan bagi kedua belah pihak untuk mencapai kesepakatan,” kata dia, mengacu pada konflik di Timur Tengah. “Itu adalah sesuatu yang sedang kami jelajahi. Segala sesuatu yang mungkin bisa membantu, tentu saja kami kejar,” imbuh dia.

Pernyataan tersebut menandakan kemungkinan meredanya ketegangan antara Filipina dan Tiongkok, yang telah meningkat sejak Marcos Jr menjabat pada tahun 2022.

Presiden Marcos Jr sebelumnya telah memperkuat hubungan militer dengan Amerika Serikat (AS) untuk membantu menjaga klaim Filipina di LTS, mengarah ke bentrokan berulang dengan kapal-kapal Tiongkok yang menyerang dengan meriam air terhadap kapal dan awak kapal Filipina.

Beberapa bulan terakhir telah terjadi lebih sedikit insiden serupa di jalur air yang kaya sumber daya seiring dengan membaiknya hubungan ekonomi antar negara.

Krisis energi yang terjadi saat ini juga menempatkan Presiden Marcos Jr pada posisi yang sulit karena Filipina berupaya mengamankan pasokan sehingga semua ini berpotensi menjadikan progres bersama yang lebih menarik.

Pada tahun 2023, Filipina mulai mengimpor gas alam cair untuk pertama kalinya karena produksi di ladang gas utama Malampaya menyusut.

PXP Energy yang terdaftar di Filipina yang memegang kontrak layanan di Reed Bank LTS, sebelumnya telah mengadakan pembicaraan dengan China National Offshore Oil untuk kemungkinan pengembangan bersama. Tetapi pembicaraan menjadi mandek selama lebih dari satu dekade, dengan Tiongkok sebelumnya memblokir upaya untuk mengeksplorasi di daerah tersebut.

Kebijakan LN

Filipina juga sedang melakukan pembicaraan dengan Tiongkok mengenai bahan bakar dan pupuk, menurut Presiden Marcos Jr.

“Mereka sangat membantu dalam hal pupuk,” kata dia. “Kami selalu mencoba membedakan sengketa wilayah dari pengaturan perdagangan kami,” imbuh dia.

Filipina saat ini juga sedang menjajaki kemungkinan sumber minyak mentah dari Russia, Presiden Marcos Jr menambahkan.

Ketika ditanya apakah dia mendukung perang AS-Israel di Iran, Marcos Jr mengatakan negaranya  tidak pernah menginginkan peperangan.

“Kebijakan luar negeri kami sangat sederhana yaitu perdamaian dan kepentingan nasional,” kata dia.

Aliansi militer antara Filipina dan AS telah menguat di bawah kepemimpinan Presiden Marcos Jr, yang memungkinkan pasukan AS untuk mengakses lebih banyak pangkalan Filipina dan menyebarkan sistem misil.

“Meskipun terjadi perang Iran, Filipina belum melihat adanya penarikan yang signifikan dalam aktivitas pasukan Amerika di sini,“ kata Presiden Marcos Jr. “Sekali lagi, elemen pentingnya adalah berapa lama perang ini akan berlangsung,” tegas dia.

“Kami menonton, menunggu, berharap, dan berdoa agar ini segera berakhir, dan kami kembali ke keadaan normal, apapun keadaan normalnya,” kata dia. ST/Bloomberg/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.