Alarm Fiskal! Airlangga Ungkap Risiko Defisit Melebar hingga 4,06 Persen
Jumat, 13 Mar 2026, 22:45 WIBJAKARTA â Risiko defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) melampaui ambang batas menjadi perhatian serius karena dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Pelebaran defisit biasanya dipicu oleh kombinasi penurunan penerimaan negara dan meningkatnya kebutuhan belanja, terutama untuk subsidi, perlindungan sosial, serta pembayaran bunga utang.
Jika tidak dikelola secara hati-hati, kondisi ini berpotensi meningkatkan kebutuhan pembiayaan melalui utang, menekan kepercayaan pasar, serta memperbesar kerentanan fiskal di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Oleh karena itu, disiplin fiskal dan optimalisasi penerimaan negara menjadi kunci untuk menjaga defisit tetap terkendali sesuai batas yang ditetapkan.
Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan skenario terburuk dampak perang di kawasan Asia Barat terhadap keuangan negara, khususnya defisit APBN yang dapat menyentuh angka 4,06 persen.
Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3), Airlangga memaparkan tiga skenario jika perang antara Iran versusIsrael dan Amerika Serikat berlarut hingga 6 bulan bahkan 10 bulan.
"Skenario terburuk, yang pesimis itu, dengan harga (minyak mentah dunia) 115 (dolar AS per barel), kurs rupiah kita Rp17.500 (per dolar AS), growth-nya 5,2 (persen), (imbal hasil) surat berharga (SBN) 7,2 (persen), defisitnya 4,06 persen," kata Airlangga kepada Presiden Prabowo saat Sidang Kabinet Paripurna.
Kemudian, dalam kesempatan yang sama, Airlangga juga melaporkan dua skenario lainnya, yang relatif lebih moderat, tetapi defisit APBN-nya juga diasumsikan melampaui angka 3 persen. ââââââAsumsinya, harga minyak mentah dunia mencapai 90 dolar AS per barel, jika perang berlarut hingga 5 bulan, kemudian 97 dolar AS per barel jika perang berlarut hingga 6 bulan, dan 115 dolar AS per barel jika perang berlarut hingga 10 bulan.
"Nah, kalau kita masukkan terhadap APBN kita Pak yang sekarang. Ini skenarionya, yang pertama ICP-nya di 86 (dolar AS per barel), kursnya di Rp17.000, Pak, APBN kita kursnya Rp16.500, kemudian dengan growth kita pertahankan, Pak. Jadi, ini yang kita pertahankan growth di 5,3 (persen), surat berharga negaranya, angkanya lebih tinggi Pak 6,8 persen, maka defisitnya adalah 3,18 persen," kata Airlangga saat memaparkan skenario pertama.
Kemudian, untuk skenario kedua, ICP atau harga minyak mentah dalam negeri diproyeksikan 97 dolar AS per barel, kurs rupiah terhadap dolar Rp17.300 per dolar AS, tingkat pertumbuhan diproyeksikan 5,2 persen, dan imbal hasil SBN 7,2 persen, maka defisit APBN mencapai 3,53 persen.
"Defisit yang 3 persen itu sulit kita pertahankan, kecuali kita mau memotong belanja, dan memotong pertumbuhan, Pak. Ini beberapa skenario yang mungkin perlu kita rapatkan secara terbatas," kata Airlangga kepada Prabowo.
- Menko Airlangga
- defisit APBN
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Cetak Dokter dari Daerah, OKU Siapkan 20 Beasiswa Kedokteran untuk Siswa Berprestasi
-
Pemerintah Provinsi Sulteng Berangkatkan 1.255 Peserta Mudik Gratis
-
Setoran Pajak Ngebut 30,4%, Tapi APBN Februari Tetap Boncos Rp135,7 Triliun
-
Jelang Idul Adha, Batam Butuh 9.000 Ekor Hewan Kurban
-
Liga Inggris: Manchester City Bidik Pangkas Jarak, Leeds Siap Beri Kejutan di Elland Road
-
Coppa Italia: Inter Milan Incar Double Winners, Como Siap Bendung Ambisi Nerazzurri
-
Menkeu Bidik Keseimbangan Baru, Defisit APBN 2027 Dipatok pada Level Modera
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.