Investor Waspada! IHSG Terkoreksi 28 Persen Sepanjang 2026, Pasar Saham Tertekan Kombinasi Badai Domestik–Global

Jumat, 19 Jun 2026, 20:55 WIB

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tekanan sepanjang tahun ini, mencerminkan kombinasi faktor domestik dan global yang menahan laju pasar saham.

Dari sisi global, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga serta volatilitas pasar keuangan internasional memperkuat sikap hati-hati investor.

Ket. Foto: Ilustrasi-Pengunjung melihat layar yang menampilkan pergerakan harga saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta. — Sumber: ANTARA FOTO/ Hafidz Mubarak A

Sementara itu, dari dalam negeri, ketidakpastian kebijakan dan sentimen terkait peninjauan MSCI Global Market Accessibility turut menambah tekanan terhadap arus modal masuk.

Kondisi ini menunjukkan bahwa IHSG sangat dipengaruhi persepsi risiko investor global, sehingga kejelasan kebijakan dan stabilitas makro menjadi faktor kunci untuk pemulihan kinerja pasar.

Hingga 19 Juni 2026, IHSG melemah 2.469,8 poin atau sekitar 28,56 persen dari level pada akhir tahun di posisi 8.646,94.

Pada penutupan perdagangan, Jumat (19/6) sore, IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) menguat 4,80 poin atau 0,08 persen ke posisi 6.177,14 tipis di tengah adanya kombinasi sentimen dari tingkat domestik dan global.

Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 7,52 poin atau 1,22 persen ke posisi 609,40.

"Kenaikan IHSG dibatasi oleh peringatan baru dari MSCI, yang mana penyedia indeks tersebut menyoroti visibilitas yang lemah dalam kepemilikan saham dan tanda-tanda perdagangan terkoordinasi," ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta, Jumat (19/6).

Dari dalam negeri, hasil dari review MSCI Global Market Accessibility mengonfirmasi adanya penurunan peringkat pada satu aspek, yakni Information Flow (arus informasi), dengan alasan kurangnya transparansi kepemilikan saham, serta kekhawatiran terkait perdagangan yang terkoordinasi.

MSCI menekankan bahwa persoalan utama pasar modal Indonesia bukan pada likuiditas atau ukuran pasar, melainkan pada aspek tata kelola, transparansi, serta keterbukaan informasi.

"Sorotan MSCI terhadap kualitas pembentukan harga dan transparansi berpotensi meningkatkan persepsi risiko di mata investor global," ujar Nico.

Selanjutnya, MSCI akan mengumumkan Annual Market Classification Review pada 24 Juni 2026 pekan depan.

Dari mancanegara, pergerakan pasar dibayangi saat mulainya implementasi perjanjian damai tentatif antara Amerika Serikat (AS) dan Iran pada Kamis (18/06), yang berhasil meredakan ketegangan geopolitik dan menurunkan harga minyak global.

Berlakunya perjanjian damai untuk menyudahi perang AS-Iran memicu pemulihan, yang ditandai dengan pencabutan resmi blokade laut Iran oleh pihak Washington.

Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance, menyatakan bahwa setiap bentuk keringanan ekonomi bagi Teheran akan bergantung pada kepatuhan Iran terhadap seluruh ketentuan perjanjian tersebut.

Di sisi lain, terdapat sentimen pasar terhadap kekhawatiran seputar prospek kebijakan moneter ketat The Fed. Sinyal hawkish dari The Fed memicu lonjakan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada sisa tahun 2026.

Walaupun Fed mempertahankan suku bunga acuan dalam pertemuan Rabu (17/06), proyeksi terbaru menunjukkan sekitar separuh anggota FOMC memperkirakan minimal satu kali kenaikan lagi menjelang akhir tahun.

Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG bergerak ke zona hijau hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, tujuh sektor menguat dipimpin sektor kesehatan yang naik 2,67 persen, diikuti oleh sektor infrastruktur dan sektor barang konsumen primer yang masing-masing naik sebesar 1,41 persen dan 1,33 persen.

Sedangkan empat sektor turun yaitu sektor barang baku turun paling dalam 1,13 persen, diikuti oleh sektor keuangan dan sektor industri yang turun sebesar 1,01 persen dan 0,99 persen.

Adapun saham-saham yang mengalami penguatan harga terbesar yaitu SDMU, BCIC, ZONE, SMMT, dan MORA. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni MLPT, BNLI, TRIN, SURE dan LUCY.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1.710.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 30,76 miliar lembar saham senilai Rp26,49 triliun. Sebanyak 353 saham naik, 358 saham menurun dan 248 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei menguat 0,52 persen ke 71.423,00, dan indeks Strait Times melemah 0,39 persen ke 5.192,70.

Sementara itu, indeks Shanghai (Tiongkok) dan indeks Hang Seng (Hong Kong) libur dalam rangka memperingati Festival Perahu Naga.

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.