Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Petani Diimbau Sesuaikan Jadwal Tanam saat Kemarau Panjang

3 Senin, 09 Mar 2026, 16:54 WIB | Oleh:
Petani Diimbau Sesuaikan Jadwal Tanam saat Kemarau Panjang Petani Diimbau Sesuaikan Jadwal Tanam saat Kemarau Panjang Doc: ANTARA/Irfan Sumanjaya
Ket. Petani memupuk lahan pertanian cabai di Desa Supiturang, Lumajang, Jawa Timur, Kamis (30/10/2025). Sejumlah petani melakukan rotasi dan diversifikasi tanaman seperti cabai, padi, tomat, dan bawang untuk mengantisipasi gagal panen akibat perubahan pola hujan

MATARAM -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau para petani di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) agar menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman tahan kekeringan sebagai langkah antisipasi musim kemarau panjang.

"Kami memperkirakan kondisi kemarau tahun ini berlangsung lebih panjang dan lebih kering," kata Kepala Stasiun Klimatologi BMKG NTB Nuga Putrantijo dalam konferensi pers di Mataram, Senin.

Nuga mengatakan penyesuaian jadwal tanam menjadi salah satu langkah penting agar produksi pertanian tetap terjaga meski menghadapi keterbatasan ketersediaan air dari sarana irigasi maupun hujan.

Ia menyarankan petani agar menanam komoditas yang tidak membutuhkan banyak air serta memiliki siklus tanam yang lebih pendek untuk mengurangi risiko gagal panen akibat musim kemarau panjang.

"Kemudian untuk sektor pengelolaan air, kami mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk menjaga ketersediaan sumber daya air secara optimal dan mengatur penggunaan irigasi secara efektif," ujar Nuga.

Berdasarkan prakiraan BMKG, Nusa Tenggara Barat mengalami musim kemarau dengan durasi waktu sekitar 25 hingga 27 dasarian atau setara delapan hingga sembilan bulan.

Awal musim kemarau dimulai pada April 2026, sedangkan periode puncak diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 yang melanda sekitar 89 hingga 90 persen wilayah NTB.

"Badan Wilayah Sungai dan Dinas Pertanian perlu mengantisipasi secara lebih serius," tegas Nuga.

Lebih lanjut ia meminta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau panjang tidak hanya kekeringan dan gangguan kesehatan, tetapi juga kebakaran hutan dan lahan di wilayah yang rentan terbakar seperti Gunung Rinjani dan Gunung Tambora.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Megapolitan
Momen Haru Warga Jakut Teri...
Nasional
Polri Mutasi 264 Perwira Ti...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Mabes Polri Belum Beri Penjelasan Isu Penangkapan Jenderal dan Petinggi Polri lainnya   

Mabes Polri Belum Beri Penjelasan Isu Penangkapan Jenderal dan Petinggi Polri lainnya  

03 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.