Waspada, Inflasi Jabar Terancam Meledak 1 Persen, Harga Beras Jadi 'Bom Waktu' Menuju Lebaran
📅 Kamis, 05 Mar 2026, 02:36 WIB | Oleh: Alfred
Doc: ANTARA/Adeng Bustomi
BANDUNG - Pemerintah Provinsi Jawa Barat diminta mewaspadai potensi lonjakan inflasi hingga satu persen pada Maret 2026 yang diprediksi bertahan hingga satu bulan selepas Hari Raya Idul Fitri.
Pengamat Ekonomi Universitas Pasundan Bandung, Acuviarta Kartabi, menegaskan bahwa stabilitas harga beras menjadi indikator krusial di tengah tren kenaikan harga komoditas pangan seperti cabai rawit, daging ayam, hingga emas perhiasan.
Dengan angka inflasi tahunan pada Februari 2026 yang menyentuh 4,71 persen, situasi ini dinilai kian mengkhawatirkan karena terjadi di tengah tekanan ekonomi warga akibat gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang belum mereda.
"Jika lengah, kenaikan inflasi bisa sampai 1 persen di bulan Maret. Situasi ini bisa bertahan sampai satu bulan selepas Hari Raya Idul Fitri," kata dia di Bandung, Rabu.
Ia menilai inflasi pada Maret 2026 dipicu oleh tren kenaikan harga komoditas pangan, terutama beras.
Sebaiknya Anda baca juga:
Jika tekanan harga tidak segera ditanggulangi, katanya, situasi ini berisiko bertahan hingga satu bulan selepas Idul Fitri karena adanya akumulasi faktor global dan kendala distribusi internal.
Menurutnya, indikator utama kegagalan atau keberhasilan pengendalian inflasi di Jawa Barat terletak pada stabilitas harga beras.
Ia menyoroti harga beras yang konsisten naik meski di tengah klaim swasembada, terutama untuk kelas medium. Berdasarkan data pada 26 Februari 2026, beras premium di Jabar sebesar Rp14.480 per kg dan beras medium di Jabar senilai Rp13.084 per kg.
Selain beras, katanya, komoditas seperti cabai rawit yang mengalami gagal panen, daging ayam ras, bawang merah, hingga harga emas akibat faktor global, menjadi penyumbang utama inflasi sejak Februari 2026 lalu.
Ia menyebut persoalan semakin kompleks akibat tren kenaikan harga BBM non-subsidi.
"Bagi saya, indikator utama kenaikan inflasi ada pada harga beras. Kenaikan harga beras cenderung berlangsung jangka panjang," ujarnya.
Acuviarta mengaku khawatir dengan potensi inflasi tak terkendali ini, mengingat kondisi tekanan harga sudah muncul sejak awal Ramadhan.
Kondisi tersebut dinilai berbahaya bagi perekonomian Jabar, terlebih di tengah meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) dan belum pulihnya sejumlah sektor ekonomi.
Terkait komoditas pangan, ia menduga adanya kesalahan antisipasi pada pasokan bawang merah serta distribusi cabai rawit yang tidak merata akibat spekulasi pasar dan faktor cuaca. Pemerintah pun didesak untuk segera melakukan langkah konkret jangka pendek.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!