Dampak Konflik Geopolitik Iran-Israel Terhadap Stabilitas Ekonomi dan Energi Indonesia
Minggu, 01 Mar 2026, 21:33 WIBSAMARINDA -Â Eskalasi konflik di Timur Tengah yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran kian mengancam stabilitas ekonomi nasional.
Pengamat ekonomi Universitas Mulawarman, Rizky Yudaruddin, memperingatkan bahwa ketergantungan pada pasokan energi asing dapat menjadi titik lemah Indonesia jika jalur perdagangan internasional di Laut Merah terputus. Menurutnya, langkah konkret menuju swasembada energi bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk menjaga daya tahan ekonomi domestik dari lonjakan harga minyak mentah dunia.
"Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran terkait pengayaan uranium ini memunculkan ketidakpastian pasar dan akan memberikan dampak berantai terhadap geopolitik dunia," kata Rizky di Samarinda, Minggu.
Akademisi yang masuk daftar dua persen ilmuwan paling berpengaruh di dunia versi Stanford University itu menyebutkan bahwa eskalasi yang memburuk sangat berpotensi mengganggu jalur perdagangan internasional.
Gangguan khususnya akan berdampak pada kawasan di Laut Merah yang selama ini menjadi urat nadi bagi 70 persen perdagangan global, lanjutnya.
"Jalur perairan strategis tersebut sangat krusial bagi kelancaran distribusi pasokan komoditas energi ke berbagai penjuru dunia," kata akademisi yang pernah meneliti terkait dampak perang dan konflik geopolitik terhadap perilaku investor global.
Lebih lanjut Rizky mengatakan hambatan pada jalur distribusi logistik ini dipastikan akan memukul perekonomian banyak negara akibat tersendatnya rantai pasok.
"Kondisi tersebut tentu memicu lonjakan harga minyak mentah di pasar internasional secara signifikan," ujar dia.
Meskipun sebagian investor mungkin meraup keuntungan dari kenaikan harga saham, stabilitas sektor energi secara keseluruhan terdampak.
Menurut dia, kenaikan harga minyak dunia saat ini pada akhirnya berimbas langsung terhadap stabilitas perekonomian Indonesia.
"Seluruh sektor industri di Tanah Air akan merasakan beban berat karena tingginya ketergantungan nasional terhadap pasokan energi fosil dari luar negeri," kata Rizky.
Oleh karena itu, ia menyarankan pemerintah Indonesia harus merespons situasi tersebut dengan segera mengambil langkah-langkah strategis dan konkret.
Langkah utama yang harus digenjot adalah memaksimalkan potensi industri di dalam negeri guna mencapai target swasembada energi.
Upaya pencapaian swasembada, menurut dia, krusial dan mendesak demi memangkas ketergantungan negara terhadap pasokan energi asing.
Selain mengamankan energi konvensional, akselerasi pengembangan energi hijau atau terbarukan juga harus menjadi fokus utama pemerintah saat ini.
"Ketegangan geopolitik dan militer di kawasan Timur Tengah ini diprediksi berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama," katanya.
Menyadari hal tersebut, Rizky mengamati banyak negara yang kini juga berlomba mewujudkan kemandirian energi bagi kepentingan nasional mereka.
"Kesiapsiagaan energi ini menjadi kunci agar aktivitas ekonomi domestik tetap berjalan tangguh di tengah gejolak pasar dunia," kata Rizky.
- swasembada energi
- kedaulatan energi
- bbm
- ekonomi indonesia
- konflik geopolitik
- harga minyak dunia
Redaktur: alfred
Penulis: Alfred, Antara
Berita Terkait:
-
XLSmart Modernisasi Infrastruktur Jaringan Transport Guna Akselerasi Layanan Cloud di Indonesia
-
Pemkab Temanggung Dapat Tambahan 171.900 Tabung LPG 3 Kg Selama Ramadan
-
Mau Mudik Naik Motor Listrik? Mengapa Tidak, tapi Cermati Masalah Berikut
-
BBMKG Peringatkan Waspadai Kecepatan Angin hingga 40 Knot di Perairan Bali
-
Puncak arus mudik motor di Pelabuhan Ciwandan
-
KAI Palembang Mencatat Sebanyak 81.134 Tiket Lebaran 2026 Sudah Terjual
-
Dari Imlek hingga Harmony Ramadan dan Lebaran, Aston Sentul Gelar Program Family Adventure
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.