BPBL Batam Targetkan Panen 1 Ton Lobster Kualitas Ekspor Akhir Tahun Ini
📅 Kamis, 26 Feb 2026, 13:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA
BATAM - Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Batam, Kepulauan Riau (Kepri) menargetkan panen lobster 1 ton berkualitas ekspor pada akhir tahun ini melalui program lobster modeling atau pemodelan budidaya terintegrasi.
Kepala BPBL Batam Ipong Adi Guna menjelaskan saat ini pihaknya masih fokus pada tahap pembesaran lobster dengan perkiraan panen pada akhir 2026.
“Paling tidak panen 1 ton di akhir tahun. Saat ini kami masih produksi pembesaran, karena pemeliharaan lobster cukup memakan waktu. Untuk distribusi kemungkinan akhir tahun ini, yang jelas program ini berkelanjutan,” katanya saat dihubungi di Batam, Kamis (26/2).
Ia menyebut pada September lalu, panen perdana lobster yang dihadiri Wakil Presiden dan Menteri Kelautan dan Perikanan mencatatkan produksi sekitar 1,7 ton.
Adapun target panen diperkirakan pada akhir 2026, meski bulan pastinya belum dapat ditentukan karena menyesuaikan pertumbuhan dan ukuran lobster.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Perkiraan akhir tahun 2026, bulan belum bisa dipastikan karena menyesuaikan pertumbuhan lobster,” tambahnya.
BPBL Batam saat ini membudidayakan tiga jenis lobster, yakni lobster pasir, lobster mutiara, dan lobster bambu.
“Untuk ekspor, Singapura masih menjadi tujuan terdekat. Selain itu, pada 2025 jalur ekspor ke Korea Selatan juga sudah terbuka melalui pengiriman dengan pesawat,” katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari sisi harga, lobster yang dijual mengikuti ketentuan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp360.000 per kilogram. Namun di pasar, lanjutnya, harga bisa berfluktuasi hingga mencapai Rp500.000 per kilogram, tergantung permintaan dan ukuran.
“Jika diterjemahkan, 1 ton lobster dapat dijual di kisaran harga Rp360 juta hingga Rp500 juta,” ujar dia.
Namun Ipong menegaskan bahwa program ini dikembangkan sebagai percontohan agar dapat direplikasi masyarakat, bukan untuk produksi massal.
“Modeling ini basisnya percontohan untuk masyarakat bisa mereplikasi, bukan produksi massal. Fasilitasnya pun terbatas,” kata dia.
Ipong menambahkan, di Batam sebenarnya cukup banyak pelaku usaha yang berencana mereplikasi sistem budidaya seperti yang dikembangkan BPBL.
“Banyak sebenarnya yang akan mereplikasi modeling seperti kita, tapi banyak juga yang terbentur aturan perizinan yang masih berproses,” katanya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!