Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Gerakan ASRI Jadi Strategi Nasional Atasi Sampah dan Lingkungan Kumuh

📅 Minggu, 22 Feb 2026, 18:14 WIB | Oleh:

Hanya saja, modernisasi tidak boleh mengabaikan prinsip ASRI, dimana intensifikasi harus tetap menjaga kesuburan tanah, efisiensi air, dan pengelolaan limbah secara sirkular. Bahkan, di kota, pertanian perkotaan dapat menjadi bagian solusi, menghidupkan ruang hijau produktif dan membangun kesadaran ekologis warga.

Dengan demikian, ASRI bukan hanya gerakan bersih-bersih, melainkan strategi menyatukan lingkungan sehat dan pangan berdaulat dalam satu sistem yang berkelanjutan.

Lingkungan dan pangan

Gerakan ASRI tidak boleh berhenti sebagai slogan yang indah didengar, tapi juga membutuhkan kebijakan yang terukur dan kolaborasi lintas sektor yang konsisten. Pemerintah pusat harus berani memasukkan indikator pangan–lingkungan dalam perencanaan pembangunan, sehingga keberhasilan tidak semata dihitung dari pertumbuhan ekonomi atau lonjakan produksi, tetapi juga dari kualitas tanah, ketersediaan air bersih, pengurangan sampah organik, dan bertambahnya ruang tanam produktif.

Pemerintah daerah dapat memperkuatnya melalui insentif bagi pertanian organik, urban farming, serta pengelolaan sampah berbasis komunitas. Akademisi menghadirkan inovasi terapan, dunia usaha mendorong investasi hijau dan kemitraan, sementara masyarakat menjadi motor perubahan budaya.

Komitmen pembenahan lingkungan dari desa hingga ibu kota harus diterjemahkan dalam langkah konkret yang berkelanjutan. Gagasan kerja bersama seluruh elemen bangsa hanya bermakna jika menyentuh ruang hidup sehari-hari, mulai dapur rumah tangga, kebun sekolah, kantor pemerintahan, pasar tradisional, hingga lahan pertanian.

ASRI pada hakikatnya adalah jembatan antara agenda lingkungan dan agenda pangan, dua hal yang sering dipisahkan. Produksi pangan tidak boleh mengorbankan ekosistem, dan pelestarian lingkungan tidak boleh mengabaikan kebutuhan dasar rakyat. Ketika birokrasi memberi teladan dalam pengurangan plastik, penghematan air, dan pengelolaan sampah yang disiplin, perubahan perilaku kolektif menjadi mungkin.

Di sinilah ASRI dapat menjadi mesin perubahan perilaku, bukan sekadar acara seremonial. Bappenas memperkirakan susut dan sisa pangan mencapai 23–48 juta ton per tahun, dengan kerugian ekonomi ratusan triliun rupiah, angka yang menunjukkan bahwa menyelamatkan pangan yang terbuang sama strategisnya dengan meningkatkan produksi.

Memilah sampah organik menjadi kompos, membangun kebun pangan lokal di sekolah dan kantor, serta menerapkan pertanian modern yang tetap menjaga tanah dan air adalah langkah konkret yang bisa dimulai dari ruang terdekat.

Swasembada pangan lokal bukan berarti menutup diri dari perdagangan global, melainkan membangun daya tahan ketika harga dunia bergejolak dan iklim berubah.

Jika nilai Aman, Sehat, Resik, dan Indah benar-benar diinternalisasi, ketahanan pangan akan tumbuh sebagai budaya bangsa, dan dari situlah kedaulatan pangan yang berkelanjutan dapat diwujudkan.

*) Kuntoro Boga Andri adalah Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kementerian Pertanian

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

Olahraga
Daftar 18 Pemain Voli Putra...

Deflasi Juli Jadi Alarm Sekaligus Peluang bagi Stabilitas Ekonomi

Deflasi Juli Jadi Alarm Sekaligus Peluang bagi Stabilitas Ekonomi

03 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.