Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Gerakan ASRI Jadi Strategi Nasional Atasi Sampah dan Lingkungan Kumuh

📅 Minggu, 22 Feb 2026, 18:14 WIB | Oleh:
Gerakan ASRI Jadi Strategi Nasional Atasi Sampah dan Lingkungan Kumuh Doc: Antara Foto
Ket. Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani memungut sampah dalam Gerakan Banyuwangi ASRI di Pantai GWD Banyuwangi, jatim. Rabu (18/2)

Dalam pidato "Indonesia Economic Outlook 2026", Presiden Prabowo Subianto menegaskan pentingnya pembenahan menyeluruh, dari kebersihan desa, hingga ibu kota, serta pengelolaan sampah berbasis teknologi ramah lingkungan yang diselesaikan dari tingkat paling bawah.

Pada saat yang sama diperkenalkan Gerakan Aman, Sehat, Resik, Indah (ASRI) sebagai arah perubahan budaya dan tata kelola ruang hidup. Sekilas tampak sebagai agenda lingkungan, namun sesungguhnya ia menyentuh akar persoalan pembangunan yang lebih luas.

Di tengah krisis iklim, laju urbanisasi, dan kebutuhan pangan yang terus melonjak, Indonesia berada di persimpangan penting, antara terus mengejar produksi dengan risiko menguras lingkungan, atau membangun sistem pangan yang bertumpu pada kesehatan ekosistem.

Pengalaman menunjukkan, peningkatan produksi, tanpa menjaga daya dukung alam justru memicu degradasi tanah, krisis air, dan ketergantungan impor. Ketahanan pangan tidak bisa berdiri di atas fondasi lingkungan yang rapuh.

Sebab pangan selalu dimulai dari lingkungan. Air yang bersih, tanah yang sehat, tata ruang yang tertib, dan budaya tidak mubazir adalah fondasi produksi dan distribusi pangan. Jika diterjemahkan secara konsisten, ASRI dapat menjadi “infrastruktur sosial” yang menghubungkan perilaku harian warga dengan agenda besar kedaulatan pangan. Di titik itulah lingkungan dan pangan bertemu, bukan sebagai dua isu terpisah, melainkan satu ekosistem kehidupan yang saling menguatkan.

Fondasi ketahanan pangan

Data pangan Indonesia terbaru memberi dua pesan sekaligus, yakni adanya alasan untuk optimistis, tetapi juga alasan kuat untuk tetap waspada. Pada 2025, luas panen padi tercatat sekitar 11,32 juta hektare, dengan produksi 60,21 juta ton gabah kering giling dan produksi beras konsumsi 34,69 juta ton, naik lebih dari 13 persen dibanding tahun sebelumnya.

Kenaikan ini menunjukkan kapasitas produksi nasional makin tangguh. Namun kita juga baru melewati fase ketika impor beras melonjak hingga sekitar 4,52 juta ton pada 2024, jauh lebih tinggi dibanding 2023.

Pada saat yang sama, impor kedelai tetap bertengger di kisaran 2,6 juta ton, sementara produksi jagung 15,14 juta ton masih harus berhadapan dengan kebutuhan pakan yang terus meningkat. Artinya, ketika cuaca terganggu, distribusi tersendat, atau harga global melonjak, kita masih cepat bergeser ke mode darurat. Ketahanan pangan kita membaik, tetapi fondasinya harus terus diperkokoh.

Karena itu, persoalan pangan hari ini bukan semata soal angka produksi, melainkan soal sistem. Ketahanan pangan sangat bergantung pada kualitas tanah, ketersediaan air, efisiensi pascapanen, serta kedekatan antara produksi lokal dan pasar lokal. Tanpa tata kelola yang rapi, hasil panen besar pun bisa bocor melalui susut distribusi, pemborosan konsumsi, dan ketergantungan bahan baku impor.

Di titik inilah Gerakan ASRI menjadi relevan, bukan sebagai slogan kebersihan, melainkan sebagai kerangka membangun disiplin ekologis nasional yang menopang pangan dari hulunya.

Nilai ASRI dapat diterjemahkan menjadi kebiasaan kolektif yang konkret, dari memilah dan mengolah sampah organik menjadi kompos, menanam di pekarangan, menjaga sumber air, serta mengurangi pemborosan pangan.

Pengalaman Program Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) menunjukkan bahwa pekarangan produktif mampu menyumbang sayur, buah, dan protein bagi keluarga, menekan pengeluaran, sekaligus meningkatkan gizi. Jika setiap rumah, sekolah, kantor, dan fasilitas publik memiliki ruang tanam sederhana, kita membangun bantalan ketahanan dari bawah. Ketahanan nasional pada akhirnya adalah akumulasi ketahanan keluarga.

Di sisi lain, peningkatan produksi tetap membutuhkan modernisasi dan organisasi petani yang kuat. Program kolektif, seperti Brigade Pangan, menunjukkan pentingnya teknologi, manajemen lahan, dan regenerasi petani.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Pementasan prembon pada Pesta Kesenian Bali

24 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pementasan prembon pada Pes...

Upaya pengembangan komoditas hortikultura

24 menit yang lalu | Wahyu AP

Ekonomi
Upaya pengembangan komodita...

Tradisi pembuatan bubur Asyura

24 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Tradisi pembuatan bubur Asyura

.Penindakan pakaian bekas impor ilegal

29 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
.Penindakan pakaian bekas i...
Nasional
Bakti kesehatan memperingat...

PT KAI: Pelanggan Kereta Imperial Naik 162,04 Persen

34 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Ekonomi
PT KAI: Pelanggan Kereta Im...
Ekonomi
Ekspor mobil produksi dalam...
Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

Ternyata Gara-Gara Ini, Taufik Hidayat Pelaku Penyekapan Perempuan hingga Buta di Bandung Berhasil Diciduk

24 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
# 7
Crysencio Summerville
📅 Rabu, 24-Jun-2026
Crysencio Summerville
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.