Budaya Sumedang Bercerita, di antara senja Ramadan dan tarawangsa

Minggu, 22 Feb 2026, 15:51 WIB

SUMEDANG -- Senja turun perlahan di Kecamatan Rancakalong, Sumedang, menyelimuti Gheotheater dengan cahaya keemasan yang hangat.

Udara sore membawa aroma tanah basah dan dedaunan yang baru disiram hujan ringan beberapa jam sebelumnya.

Ket. Foto: Bupati Kabupaten Sumedang Dony Ahmad Munir saat menyaksikan dakwah melalui aksi wayang golek di Geotheater Rancakalong, Sumedang — Sumber: ANTARA/Ilham Nugraha

Ratusan warga berkumpul, menyiapkan diri untuk ngabuburit yang berbeda dari biasanya;  bukan sekadar menunggu azan magrib, tetapi merayakan budaya dan iman.

Bupati Sumedang yang hadir menyebut Geotheater bukan sekadar panggung pertunjukan.

“Geotheater ini bukan hanya tempat tampil seni, tetapi ruang perjumpaan nilai. Di sini seni, budaya, dan dakwah bisa berjalan berdampingan. Inilah wajah Sumedang sebagai Puseur Budaya Sunda,” ujarnya sembari memandang barisan warga yang memenuhi area terbuka itu.

Di barisan, anak-anak duduk bersila dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu saat seniman menyesuaikan senar tarawangsa (alat musik gesek tradisional Sunda yang memiliki dua dawai) dan menyiapkan wayang golek untuk pertunjukan.

Sesekali terdengar tawa kecil atau suara berbisik, bercampur dengan bunyi langkah kaki orang tua yang menempati sisi panggung.

Beberapa orang tua mengawasi anak-anak mereka sambil sesekali menunjuk ke arah panggung, menjelaskan tentang tarawangsa dan sejarahnya bagi budaya Sunda.

Panggung mulai hidup ketika alunan tarawangsa terdengar lembut, memecah hening sore dengan nada-nada mengalun pelan, menenangkan, tapi juga menyentuh.

Setelah beberapa menit, panggung hidup ketika wayang golek pun mulai menari.

Setiap gerakan boneka bercerita ajaran nilai-nilai Islam yang dibalut kearifan lokal Sunda sehingga membuat warga yang menonton terhanyut dalam kisahnya, seolah pesan itu berbisik lembut ke hati masing-masing.

Acara ini tak hanya disaksikan warga lokal, karena kamera warga merekam pertunjukan, menyiarkannya secara daring, menjangkau penonton yang tidak bisa hadir langsung.

Hal ini membuat ngabuburit menjadi pengalaman kolektif, yang menghubungkan ruang fisik Geotheater dengan dunia maya, sekaligus mempromosikan Sumedang sebagai pusat budaya yang hidup.

Bupati Sumedang menyempatkan diri memberikan komentar singkat usai acara.  Matanya menatap panggung yang perlahan mulai sepi, sementara cahaya senja menyelimuti Geotheater.

“Ngabuburit kali ini bukan sekadar menunggu waktu berbuka, tetapi diisi seni, budaya, dan dakwah yang menyentuh hati,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi ruang yang saling menguatkan, tempat pesan dan tradisi berpadu, mengisi bulan puasa dengan makna.

“Ini hal yang saling melengkapi. Saya mengajak masyarakat untuk mengisi bulan puasa dengan kegiatan yang bermanfaat, berdampak, dan meninggalkan kesan mendalam. Ngabuburit bukan sekadar waktu, tetapi momentum merawat budaya dan iman,” katanya.

Menjelang magrib, doa dipanjatkan,. Azan pun kemudian berkumandang, dan warga berbuka bersama dengan suasana hangat dan kebersamaan terasa kental. Anak-anak memegang takjil, orang tua menyiapkan makanan, dan seniman menutup pertunjukan dengan senyum lega.

Di antara penonton yang menikmati acara, seorang mahasiswi asal Bogor bernama Keiza (21)  mengaku mengetahui kegiatan itu dari temannya.

Ia tampak antusias mengikuti rangkaian acara, terlebih karena suasananya yang terasa asli dan adem, sehingga membuat waktu menunggu maghrib terasa lebih menyenangkan sekaligus bermakna.

“Seru banget. Buat aku sih ini bisa belajar juga tentang wayang. Cocok banget buat nunggu waktu maghrib, suasananya asli dan adem,” ujar Keiza.

Di Geotheater, ngabuburit kini menjadi lebih dari sekadar menunggu waktu berbuka. Ini adalah cara merawat identitas di antara senja, tarawangsa, tawa anak-anak, dan doa yang mengalun pelan namun pasti, meninggalkan jejak yang hangat bagi setiap hati yang hadir.

Puseur Budaya

Geotheater sendiri dirancang sebagai pusat pengembangan seni budaya di Rancakalong, wilayah yang dihuni sekitar kurang lebih 45 ribu jiwa.

Di sini, berbagai kesenian tradisional tampil rutin setiap Sabtu dalam program Ekosistem Budaya Kasumedangan, mulai dari jaipongan, kaulinan tradisional, Ngulik Bareng Gamelan, panahan tradisional, hingga tarawangsa.

Tempat ini tidak hanya sebagai panggung pertunjukan, tetapi juga ruang edukasi budaya bagi generasi muda.

Pemerintah daerah berencana memperkuat fasilitas kawasan, mulai dari penambahan lampu penerangan, pelebaran jalan, hingga pengembangan camping ground bernuansa seni budaya serta unit usaha UMKM.

Akses ke lokasi pun semakin mudah melalui Tol Cisumdawu, hanya sekitar 20 menit dari pintu Tol Pamulihan, sehingga warga dari berbagai kecamatan dapat dengan nyaman mengikuti kegiatan.

Dengan demikian, tarawangsa dan seni tradisional lain bisa lebih dikenal luas, tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai warisan budaya yang hidup.

Identitas Sumedang sebagai Puseur Budaya Sunda ditegaskan melalui Peraturan Daerah Nomor 1 Tahun 2021.

Hingga 2025, Sumedang memiliki 15 Warisan Budaya Tak Benda yang diakui nasional maupun provinsi, termasuk tarawangsa, Ngalaksa Rancakalong, Goong Renteng, dan Seni Ajeng Kasumedangan.

Pelestarian juga menyasar situs fisik, seperti Benteng Palasari dan Keraton Sumedang Larang, yang sedang direvitalisasi sebagai bagian penguatan narasi sejarah Sunda.

Selaras dengan visi nasional

Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengemukakan potensi daerah Sumedang dan Keraton Sumedang Larang menjadi destinasi wisata budaya unggul di wilayah Provinsi Jawa Barat.

"Sumedang sangat berpotensi untuk menjadi pusat kebudayaan Sunda. Nantinya, Sumedang ini jangan jadi tempat persinggahan saja, tapi harus benar-benar menjadi destinasi utama," katanya

Menteri Kebudayaan juga mengungkapkan bahwa saat ini baru terdapat 228 cagar budaya yang terdaftar secara resmi, dan pemerintah menargetkan penambahan puluhan lagi dalam waktu dekat.

Selain itu, Indonesia telah memiliki 2.213 warisan budaya tak benda yang diakui secara nasional, dengan 16 di antaranya telah terdaftar di UNESCO, seperti wayang, batik, angklung, pantun, tari saman, pencak silat, gamelan, jamu, hingga reog Ponorogo.

Tahun ini, sebanyak 550 tambahan warisan budaya tak benda akan segera diumumkan, termasuk 60 di antaranya berasal dari Jawa Barat.

Geotheater bukan sekadar panggung, melainkan simbol keberlanjutan budaya yang menuntun masyarakat untuk menghargai masa lalu, menikmati saat ini, dan menatap masa depan dengan bangga atas identitasnya.

Geotheater menjadi saksi hidup bagaimana Sumedang meneguhkan diri sebagai Puseur Budaya Sunda, tempat di mana seni, iman, dan tradisi berpadu, menciptakan ruang bagi setiap warga untuk merasakan kedekatan dengan akar budaya mereka sekaligus menghidupkan nilai-nilai yang melekat di hati generasi muda.

Redaktur: Koran Jakarta

Penulis: Antara, Sujar

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.