Menjaga Tradisi 'Meugang' Sehari Jelang Ramadan Tetap Lestari Pascabencana
📅 Rabu, 18 Feb 2026, 18:33 WIB | Oleh: OpikTradisi itu lestari, hingga saat ini, meski model pengadaan dagingnya mulai beragam.
Akademisi UIN Ar Raniry Banda Aceh Marzuki Abubakar, melalui penelitian yang bertajuk “Tradisi Meugang dalam Masyarakat Aceh”, menyampaikan setidaknya ada empat model yang dipraktikkan oleh masyarakat Aceh dalam mengadakan daging meugang.
Pertama, adalah meuripee atau masyarakat sepakat untuk mengumpulkan sejumlah uang dan membeli hewan sembelihan. Melalui metode ini, daging akan dibagikan, sesuai dengan jumlah orang yang ikut mengumpulkan uang.
Model yang kedua adalah mengadakan daging dengan membeli dari agen yang akan menyembelih pada hari meugang. Agen penyembelih akan menawarkan daging dari rumah ke rumah. Setelah mendapat jumlah pembeli, barulah agen menentukan berapa lembu yang akan disembelih.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selanjutnya adalah model membeli di pasar. Dua hari sebelum Ramadan, Idul Fitri, dan Idul Adha, pasar akan diramaikan dengan penjual daging dan masyarakat bisa memilih daging yang ingin mereka beli.
Model ketiga ini umum dipakai, sebagaimana Imam yang menceritakan bahwa ia terbiasa membeli daging di pasar untuk dimasak oleh sang istri. Pada periode meugang, harga daging di pasar bisa naik hingga 200 ribu rupiah per kg, melampaui harga normal yang berada di kisaran 140 ribu–150 ribu rupiah per kg.
Model keempat adalah masyarakat yang menyembelih ayam atau bebek. Marzuki menyampaikan, mereka yang menggunakan model ini merayakan meugang dengan sangat sederhana.
Sebaiknya Anda baca juga:
Tradisi meugang biasa digelar pada H-2 atau H-1 Ramadan, H-2 dan H-1 Idul Fitri, serta H-2 dan H-1 Idul Adha. Hari pertama meugang biasa disebut dengan meugang ubit (kecil) dan hari kedua disebut dengan meugang rayeuk (besar/puncak).
Bagi Marzuki, meugang merupakan bagian dari ajaran agama yang dijalankan atau diamalkan oleh masyarakat Aceh dalam bentuk budaya atau tradisi yang telah melekat.
Hadits yang ia kutip sebagai pendukung pernyataannya adalah “man fariha bi dukhuli ramadhan, harramallahu jasadahu ‘alan nirani”, yang artinya, “barang siapa yang senang dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan tubuhnya dari api neraka”.
Marzuki mengartikan makan daging sebagai salah satu bentuk "senang", sebab daging merupakan makanan yang tergolong mahal.
Oleh karenanya, makan daging menjelang Ramadhan merupakan cara masyarakat Aceh mengekspresikan rasa senangnya.
Lantas, bagaimana tradisi meugang berlangsung, setelah nyaris tiga bulan bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh berlalu?
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!