Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Menjaga Tradisi 'Meugang' Sehari Jelang Ramadan Tetap Lestari Pascabencana

📅 Rabu, 18 Feb 2026, 18:33 WIB | Oleh:
Menjaga Tradisi 'Meugang' Sehari Jelang Ramadan Tetap Lestari Pascabencana Doc: ANTARA/Rahmad
Ket. Warga memadati pasar meugang tradisional untuk membeli daging sapi yang dijual pedagang Rp170 ribu per kilogram pada perayaan meugang besar Ramadan di Lhokseumawe, Aceh. Tradisi perayaan meugang tiga kali dalam setahun yakni menjelang datangnya Ramadan, jelan Idulfitri dan Iduladha.

ACEH UTARA, ACEH - Uroe got buleuen got, beumeutume pajoh leupek Mak peugot. “(Pada) hari baik bulan baik, setiap orang harus dapat makan gulai buatan ibu”.

Sebaris pitutur itu mengakar dalam diri masyarakat Aceh melalui tradisi meugang atau makmeugang. Sebaris pitutur itu pula yang dikenang oleh Imam Zamzami, seorang pengungsi asal Dusun Lhok Pungki, yang sudah nyaris tiga bulan menjalani harinya di tenda pengungsian.

Dusun Lhok Pungki dilibas habis oleh bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Desa Gunci, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Aceh, pada November 2025. Suasana tepi sungai yang dahulu dipenuhi oleh rumah-rumah berbahan kayu, kini berubah menjadi tumpukan batang pohon dan bebatuan yang terseret arus.

Rumah Imam tidaklah mendapat pengecualian. Kediamannya turut hilang akibat terseret oleh arus banjir.

Sembari melindungi diri dari guyuran hujan di bawah tenda pengungsian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Imam menceritakan kerinduannya akan tradisi meugang, sehari sebelum bulan Ramadan pada tahun-tahun sebelumnya.

Menjelang Ramadan, Imam terbiasa membeli daging sapi di pasar yang kemudian disulap menjadi masak merah oleh istrinya. Masak merah merupakan masakan khas Aceh Utara, saat menjalankan tradisi meugang.

Ciri khas dari masak merah adalah penggunaan rempah-rempah, seperti cabai kering, daun temurui atau daun kari, daun pandan, dan lain-lain.

Untuk anak-anaknya, terkadang dibuatkan porsi khusus atau ditambah kecap manis bila dirasa terlalu pedas.

Masak merah tersebut lantas disantap bersama keluarganya dalam suasana suka cita menyambut Ramadan, tak terkecuali bersama ibu mertua.

Imam merindukannya; suasana meugang bersama keluarga dalam rangka menyambut kehangatan bulan baik, bulan yang penuh berkah.


Tradisi meugang

Kerinduan yang menjangkit Imam merupakan buah dari tradisi meugang yang ia jalani sejak berusia belia.

Tak mengherankan, sebab tradisi meugang dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat Aceh. Berbagai sumber menuliskan, tradisi meugang telah hadir pada zaman Kesultanan Aceh Darussalam, ketika Sultan Iskandar Muda memerintah.

Perayaan meugang merupakan wujud rasa syukur raja, sekaligus menyambut datangnya bulan Ramadan. Dipotonglah lembu atau kerbau dan dibagi-bagikan dagingnya kepada rakyat.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Produksi Tembus 3 Juta Unit, Midea Perkuat Industri Elektronika Nasional
    Langkah ekspansif Midea dalam memperluas fasilitas manufaktur Residential ...
  • Industri Plastik RI Mulai Oleng! Produk China Banjir, Pabrik Mulai Kurangi Jam Kerja
    Artikel ini menyoroti akar masalah secara berimbang, di ...
  • ExxonMobil Dorong Efisiensi Operasional Tambang Melalui Teknologi Pelumasan
    Ulasan ini sangat membuka wawasan mengenai pentingnya pergeseran ...
  • Direksi OpenAI Peringatkan Industri Belum Siap Cegah Kehilangan Kendali Atas Kecerdasan Buatan
    Meskipun narasi tentang agen AI yang lepas kendali ...
  • Jamin Mutu MBG, Kemenperin Kawal Penerapan SNI Wajib Food Tray
    Langkah proaktif Kementerian Perindustrian dalam mewajibkan SNI untuk ...
Megapolitan
LRT Jabodebek Targetkan 30 ...
Olahraga
Marc Marquez Menangi MotoGP...
Advertisement
Tragedi Masalembo Meledak, Menhub Dudy Perintahkan Usut Tuntas Penyebab KM Virgo Transport 8

Tragedi Masalembo Meledak, Menhub Dudy Perintahkan Usut Tuntas Penyebab KM Virgo Transport 8

13 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.