Mengajarkan Puasa pada Anak dengan Pendekatan yang Mengutamakan Kepentingan Terbaik
📅 Minggu, 15 Feb 2026, 20:31 WIB | Oleh: Yebdi Trismar
Doc: Antara Foto
Bulan suci Ramadhan kembali akan menyapa umat Muslim di seluruh Indonesia. Suasana sahur yang hangat, lantunan ayat suci, dan momen berbuka bersama menjadi pengalaman kolektif yang membentuk memori spiritual keluarga.
Di balik suasana khidmat itu, terdapat proses pembelajaran yang tidak sederhana bagi anak-anak, terutama mereka yang baru pertama kali mencoba berpuasa.
Bagi orang dewasa, puasa adalah kewajiban keagamaan yang sarat makna pengendalian diri dan empati sosial. Bagi anak-anak, puasa adalah pengalaman baru yang menyentuh dimensi fisik, emosional, sekaligus sosial.
Pertanyaannya bukan sekadar kapan anak mulai belajar berpuasa, melainkan bagaimana memastikan proses tersebut berjalan selaras dengan prinsip kepentingan terbaik anak.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sekitar 87 persen penduduk Indonesia beragama Islam. Artinya, Ramadhan adalah momentum sosial berskala nasional yang memengaruhi jutaan anak. Hampir setiap lingkungan sosial—keluarga, sekolah, hingga media—mengalami perubahan ritme selama bulan puasa. Dalam konteks sebesar ini, pendekatan terhadap anak menjadi sangat penting.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) pada 2025 menggagas Deklarasi Bersama Gerakan Ramadan Ramah Anak bersama enam kementerian/lembaga dengan tagline “Ramadan Ceria, Anak Bahagia”. Gerakan ini menegaskan bahwa Ramadhan seharusnya menjadi ruang pembentukan karakter yang aman dan menyenangkan bagi anak, bukan ruang tekanan atau kompetisi kesalehan.
Prinsip tersebut sejalan dengan Konvensi Hak Anak (Convention on the Rights of the Child/CRC) yang telah diratifikasi Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990. CRC menegaskan bahwa dalam setiap tindakan yang berkaitan dengan anak, kepentingan terbaik anak harus menjadi pertimbangan utama. Prinsip ini bukan sekadar norma hukum, melainkan kompas moral dalam setiap praktik pengasuhan, termasuk dalam pendidikan agama.
Anak yang belum baligh memang tidak diwajibkan berpuasa secara penuh. Dalam tradisi Islam, pengenalan ibadah dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan. Pendekatan ini justru mencerminkan penghormatan terhadap kapasitas berkembang anak (evolving capacities) sebagaimana diatur dalam CRC. Anak memiliki hak untuk mendapatkan bimbingan agama dari orang tua, tetapi juga memiliki hak atas perlindungan kesehatan fisik dan mentalnya.
Psikiater dr Aimee Nugroho, SpKJ mengingatkan bahwa pemaksaan puasa pada anak yang belum siap dapat memicu tekanan emosional. Orang tua perlu peka terhadap tanda-tanda, seperti mudah marah, menangis berlebihan, atau menarik diri. Pesan ini penting karena data kesehatan mental anak Indonesia menunjukkan tantangan yang tidak kecil.
Survei kesehatan nasional mengindikasikan sekitar satu dari tiga anak usia 10–17 tahun mengalami masalah kesehatan mental, dan satu dari 20 remaja mengalami gangguan mental dalam satu tahun terakhir. Dalam situasi demikian, pengasuhan yang sensitif menjadi kebutuhan mendesak.
Penelitian ilmiah juga menunjukkan bahwa puasa pada anak usia remaja yang sehat umumnya tidak berdampak signifikan terhadap fungsi kognitif, seperti konsentrasi dan pengambilan keputusan.
Meskipun demikian, temuan tersebut tetap mensyaratkan kondisi kesehatan yang baik serta asupan nutrisi yang memadai saat sahur dan berbuka. Artinya, puasa bukan hanya soal niat dan ketahanan, tetapi juga soal tanggung jawab orang tua memastikan kebutuhan gizi terpenuhi.
Di sinilah letak pentingnya perspektif kepentingan terbaik anak. Mengajarkan puasa tidak boleh berhenti pada aspek ritual menahan lapar dan haus. Ia harus menjadi proses pendidikan karakter yang utuh: mengajarkan kesabaran tanpa memicu trauma, membangun disiplin tanpa menghadirkan ketakutan, serta menumbuhkan empati tanpa menciptakan rasa bersalah.
Ramadhan justru membuka peluang besar untuk memperkuat relasi keluarga. Sahur bersama dapat menjadi ruang dialog hangat. Berbuka puasa bisa menjadi momen refleksi tentang rasa syukur. Anak dapat dilibatkan dalam kegiatan berbagi kepada sesama agar memahami makna solidaritas sosial. Ketika anak merasa didengar dan dihargai, pengalaman berpuasa akan menjadi kenangan spiritual yang membahagiakan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!