Studi: Manusia yang Berisik Membahayakan dan Mempengaruhi Keberhasilan Perkembangbiakan Burung
Rabu, 11 Feb 2026, 12:45 WIBPARIS - Polusi suara mempengaruhi perilaku burung di seluruh dunia, mengganggu segala hal mulai dari nyanyian kawin hingga kemampuan mencari makanan dan menghindari predator, demikian hasil analisis skala besar terbaru yang dirilis pada Rabu (11/2).
Para peneliti meninjau hampir empat dekade penelitian ilmiah dan menemukan bahwa suara yang dihasilkan manusia mengganggu kehidupan burung di enam benua dan ternyata memiliki dampak negatif yang kuat terhadap keberhasilan reproduksi.
Penelitian sebelumnya pada spesies individu telah menunjukkan bahwa sumber tunggal kebisingan antropogenik seperti pesawat terbang, lalu lintas, dan konstruksi, dapat berdampak pada burung sebagaimana halnya pada satwa liar lainnya.
Namun untuk studi ini, tim melakukan analisis yang lebih luas dengan menggabungkan data yang dipublikasikan sejak tahun 1990 dari 160 spesies burung untuk melihat apakah ada tren yang lebih luas yang dapat ditemukan.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the Royal Society B ini menemukan bukti jelas tentang dampak "meluas" polusi suara terhadap burung di seluruh dunia.
"Kami menemukan bahwa kebisingan secara signifikan memengaruhi perilaku risiko komunikasi, pencarian makanan, agresi, dan fisiologi, serta memiliki pengaruh kuat pada penggunaan habitat dan dampak negatif pada reproduksi," demikian pernyataan tersebut.
Hal ini karena burung bergantung pada informasi akustik untuk bertahan hidup, sehingga membuat mereka sangat rentan terhadap kebisingan modern yang dihasilkan oleh mobil, mesin, dan kehidupan perkotaan.
"Mereka menggunakan nyanyian untuk menemukan pasangan, panggilan untuk memperingatkan adanya predator, dan anak burung mengeluarkan suara memohon untuk memberi tahu orang tua mereka bahwa mereka lapar," kata Natalie Madden, yang memimpin penelitian tersebut saat berada di Universitas Michigan, dalam sebuah pernyataan.
"Jadi, jika ada suara bising di lingkungan sekitar, apakah mereka masih bisa mendengar sinyal dari spesies mereka sendiri?"
Dalam beberapa kasus, polusi suara mengganggu pertunjukan perkawinan, menyebabkan pejantan mengubah lagu rayuan mereka, atau menutupi pesan antara anak burung dan induknya.
Respons yang ditimbulkan bervariasi antar spesies, dengan burung yang bersarang dekat tanah mengalami dampak reproduksi yang lebih besar, sementara burung yang menggunakan sarang terbuka mengalami efek yang lebih kuat pada pertumbuhan.
Sementara itu, burung yang hidup di daerah perkotaan cenderung memiliki kadar hormon stres yang lebih tinggi daripada burung yang hidup di luar kota.
Para penulis mengatakan bahwa polusi suara adalah konsekuensi yang kurang dihargai dari dampak manusia terhadap alam, terutama jika dibandingkan dengan dua pendorong utama yaitu hilangnya keanekaragaman hayati dan perubahan iklim.
Sekitar 61 persen spesies burung di dunia mengalami penurunan populasi, menurut pernyataan Uni Internasional untuk Konservasi Alam pada bulan Oktober.
Namun, menurut penulis senior studi tersebut, Neil Carter, dari Universitas Michigan, sudah ada banyak solusi untuk mengatasi polusi suara.
Sebagai contoh, bangunan dibangun untuk meningkatkan jarak pandang dan meminimalkan tabrakan burung, dan dengan cara yang hampir sama, bangunan dapat diadaptasi untuk meredam suara.
"Begitu banyak hal yang kita hadapi terkait hilangnya keanekaragaman hayati terasa tak terhindarkan dan berskala besar, tetapi kita tahu bagaimana menggunakan berbagai material dan bagaimana memasang berbagai hal dengan cara yang berbeda untuk menghalangi suara," katanya.
"Kita tahu apa yang harus digunakan dan bagaimana cara menggunakannya, kita hanya perlu meningkatkan kesadaran dan minat yang cukup untuk melakukannya." ils/AFP/I-1
- burung
- Polusi Suara
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP, Ilham Sudrajat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.