Pasar EV-Hybrid Meledak di Atas 40 Persen, Industri Otomotif RI Masuk Era Baru?

Jumat, 14 Agu 2026, 23:50 WIB

JAKARTA – Kenaikan penjualan mobil EV dan hybrid menunjukkan konsumen Indonesia mulai semakin terbuka terhadap kendaraan berteknologi rendah emisi.

Tren ini bukan hanya didorong faktor lingkungan, tetapi juga pertimbangan efisiensi bahan bakar, biaya kepemilikan, dan semakin beragamnya pilihan model. Pangsa kendaraan energi baru juga terus meningkat pada 2026.

Ket. Foto: Arsip - Pelanggan mengisi daya mobil listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) PLN di Jakarta. — Sumber: ANTARA/ Alif Bintang

Namun, pertumbuhan tersebut perlu diikuti penguatan ekosistem pengisian daya, insentif yang tepat sasaran, serta industri dan komponen lokal.

Dengan begitu, kenaikan penjualan EV-hybrid tidak berhenti sebagai perubahan pola konsumsi, tetapi ikut mempercepat transformasi industri otomotif nasional.

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan penjualan mobil naik 33,3 persen, dan khusus untuk kendaraan listrik (electric vehicle/ EV) dan mobil hybrid naik di atas 40 persen.

“Kalau kami lihat dari sektor otomotif naik 33,3 persen year-on-year (secara tahunan), dan khusus untuk kendaraan elektrik ataupun kendaraan hybrid itu naiknya lebih dari 40 persen,” ujar Airlangga dalam Konferensi Pers Nota Keuangan dan RAPBN Tahun Anggaran 2027 yang digelar di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak Jakarta, Jumat (14/8).

Pernyataan tersebut, menurut dia, selaras dengan data PLN yang mencatat konsumsi listrik pada Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang mencapai 62,4 juta kilowatt hour (kWh) hingga Juni 2026.

Realisasi selama enam bulan tersebut telah melampaui konsumsi listrik SPKLU sepanjang 2025 yang tercatat sebesar 48,5 juta kWh atau tumbuh 28 persen.

Selain melihat aktivitas ekonomi riil dari sektor otomotif, Airlangga juga menyoroti total penjualan listrik yang menunjukkan peningkatan sebesar 10,8 persen.

Apabila kenaikan konsumsi listrik dilihat berdasarkan konsumen, ia mengatakan konsumsi listrik untuk rumah tangga naik 12,3 persen, konsumsi listrik untuk bisnis naik sebesar 10 persen, dan konsumsi listrik untuk industri naik 6,5 persen.

“Kenaikan ekonomi juga bisa dilihat dari kegiatan yang mengonsumsi listrik. Itu juga naik 10,8 persen dan penjualan semen 13,5 persen year on year (secara tahunan),” kata Airlangga.

Dengan demikian, lanjut Airlangga, mobilitas dan aktivitas industri terpantau positif.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2027 dapat mencapai 6 persen secara tahunan, sebagaimana dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun 2027.

Presiden Prabowo Subianto menyatakan target pertumbuhan ini lebih tinggi dari target APBN 2026 yang sebesar 5,4 persen.

Pada 2027, pemerintah menargetkan belanja negara mencapai sebesar Rp4.097,2 triliun, naik dari Rp3.842,7 triliun pada APBN 2026. Di sisi lain, pendapatan negara diperkirakan mencapai Rp3.426 triliun, naik dari Rp3.153,6 triliun pada APBN 2026.

Pembiayaan direncanakan sebesar Rp671,2 triliun dengan defisit sebesar 2,40 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), menurun dari rencana pembiayaan pada APBN 2026 yang sebesar Rp689,1 triliun dengan defisit 2,68 persen PDB.

  • Pasar EV-Hybrid

Redaktur: Muchamad Ismail

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.