- Home
-
- Luar Negeri
-
- Kedelai Jadi Jembatan, AS-...
Kedelai Jadi Jembatan, AS-RI Pererat Kolaborasi Strategis
Selasa, 03 Feb 2026, 22:15 WIBJAKARTA â Kerja sama sektor kedelai antara Amerika Serikat dan Indonesia mencerminkan strategi bilateral untuk meningkatkan ketahanan pangan dan nilai tambah industri pertanian.
Dengan menggabungkan kapasitas produksi kedelai AS dan kebutuhan domestik RI, kerja sama ini dapat mendorong transfer teknologi, praktik budidaya modern, serta efisiensi rantai pasok.
Selain mendukung swasembada dan substitusi impor, inisiatif ini berpotensi memperkuat daya saing komoditas lokal di pasar internasional, asalkan disertai kebijakan pendukung, investasi infrastruktur, dan penguatan kapasitas petani di Indonesia.
CEO Dewan Ekspor Kedelai AS (U.S. Soybean Export Council/ USSEC) Jim Sutter mengatakan 40 tahun kerja sama yang telah terjalin antara AS dan Indonesia di sektor komoditas kedelai telah mengembangkan hubungan yang luar biasa di antara kedua negara.
"Saya pikir itu benar-benar sesuatu yang luar biasa," kata Sutter dalam Diskusi dan Demonstrasi Memasak dengan Kedelai AS di Pusat Budaya AS @america, Jakarta, Selasa (3/2).
Sutter mengatakan bahwa dalam 40 tahun hubungan kerja sama tersebut, ada banyak hal yang masih harus dipelajari oleh kedua belah pihak.
Bagi para petani kedelai AS, mereka masih harus mempelajari apa itu tempe, di mana kedelai yang sebagian besar diimpor dari AS digunakan oleh produsen Indonesia untuk membuat makanan tradisional tempe.
Sementara bagi para produsen tempe Indonesia, mereka juga masih harus mempelajari tentang kedelai AS dan bagaimana mereka dapat mempercayai rantai pasokan yang berasal langsung dari ladang pertanian kedelai di AS.
"Jadi, saya pikir 40 tahun ini benar-benar telah membantu kita mengembangkan hubungan yang hebat," kata Sutter.
Dalam kesempatan itu, Sutter juga mengapresiasi Presiden RI Prabowo Subianto atas program prioritasnya, yaitu Makan Bergizi Gratis.
Menurut dia, program tersebut sangat visioner untuk meningkatkan pola makan dan program makan siang bagi siswa dan penerima manfaat lainnya di Indonesia.
"Saya pikir itu adalah cara yang sangat baik untuk mencoba meningkatkan nutrisi masyarakat yang mungkin kekurangan beberapa hal dalam diet mereka," katanya.
Dia menekankan bahwa protein sangat penting bagi manusia. Tetapi, terkadang masyarakat tidak menganggap protein sebagai bahan penting dalam diet sehari-hari.
"Kita cenderung lebih banyak mengonsumsi karbohidrat dan tidak mengonsumsi protein sebanyak yang seharusnya. Dan saya pikir makanan berbahan dasar kedelai adalah cara yang sangat baik untuk mendapatkan produk makanan bergizi dan terjangkau dalam diet kita," kata Sutter lebih lanjut.
Untuk itu, dia mengaku senang dapat melihat bagaimana kedelai AS diolah oleh produsen Indonesia menjadi tempe dan tahu, yang menjadi sumber protein utama dari nabati untuk meningkatkan gizi masyarakat Indonesia, khususnya melalui program MBG.
"Jadi, sangat menyenangkan melihat program yang sedang berjalan ini. Dan Anda akan tahu bagaimana petani kami melakukan pekerjaan yang luar biasa dalam memproduksi kedelai secara berkelanjutan," demikian katanya.
- Kedelai
- USSEC
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Pajak Ekonomi Digital Meledak: Bukti Transaksi Online dari Netflix hingga E-Commerce Jadi Mesin Baru Penerimaan Negara
-
Dampak fluktuasi harga kedelai
-
Alwi Farhan Juara Baru Harapan Baru
-
Samsung Galaxy Z Flip FE Mungkin Dirilis Tanpa Label "FE"
-
Pembuatan tahu tradisional di Pontianak
-
Kurangi Produksi Kedelai
-
Kesempatan Emas Nih! Jepang Tawarkan Program Magang Siswa SMK untuk Tukar Ilmu tentang MBG
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.