Kemenekraf Klaim Industri Kreatif Tahan Banting Hadapi Gejolak Global
📅 Jumat, 30 Jan 2026, 22:29 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ HO-Kementerian UMKM
JAKARTA – Industri kreatif yang tetap tumbuh di tengah gejolak global menunjukkan ketahanan ekonomi berbasis inovasi dan ide.
Saat tekanan eksternal seperti perlambatan ekonomi dunia, konflik geopolitik, dan volatilitas pasar melemahkan sektor konvensional, industri kreatif justru memiliki fleksibilitas tinggi karena bertumpu pada kreativitas, teknologi digital, dan pasar domestik.
Kekuatan ini menjadikan ekonomi kreatif sebagai penyangga pertumbuhan sekaligus sumber penciptaan lapangan kerja baru.
Namun agar daya tahannya berkelanjutan, diperlukan dukungan kebijakan yang konsisten, akses pembiayaan yang inklusif, serta perlindungan kekayaan intelektual, sehingga industri kreatif tidak hanya mampu bertahan menghadapi guncangan global, tetapi juga naik kelas sebagai motor pertumbuhan ekonomi jangka panjang.
Deputi Pengembangan Strategis Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) Cecep Rukendi menilai industri kreatif memiliki ketahanan atau resiliensi terhadap tantangan dan dinamika perekonomian-geopolitik global saat ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Ekonomi kreatif ini sangat resilien sebenarnya, karena kunci dari ekonomi kreatif itu adalah nilai tambah dari kreativitas yang terkadang harganya tanpa batas,” kata Cecep saat ditemui di Jakarta, Jumat (30/1).
Selain itu, ia menilai pasar dari produk kreatif pun bukan berbentuk barang massal yang sangat terpengaruh oleh fluktuasi ekonomi dan politik global.
“Tetapi memang memiliki pasar khusus yang menyukai produk dan jasa kreatif sehingga relatif resilien terhadap situasi ini,” ujarnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lebih lanjut, dia mengatakan, pihaknya juga akan fokus untuk memaksimalkan potensi dari 17 subsektor ekonomi kreatif serta peningkatan kompetensi talenta, agar ekosistem industri ini dapat berkontribusi sesuai dengan amanat Rencana Pengembangan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2029.
Dari 17 subsektor ekonomi kreatif tersebut, lanjut Cecep, setidaknya tujuh subsektor menjadi prioritas pemerintah, yaitu kuliner, fesyen, kerajinan/kriya, aplikasi digital, gim, film, dan musik.
Hal ini menyusul tingginya minat investasi terhadap produk-produk kreatif Indonesia tahun lalu.
Berdasarkan data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM yang diolah Kemenekraf, subsektor aplikasi menjadi penerima investasi tertinggi pada triwulan 1-3 tahun 2025 dengan nilai investasi mencapai Rp40,94 triliun.
Subsektor aplikasi tersebut meliputi teknologi finansial (tekfin/fintech), e-commerce, aplikasi berbasis AI, aplikasi hiburan, dan lain sebagainya.
Investasi terbanyak diikuti sejumlah subsektor lainnya yakni fesyen Rp26 triliun, kriya Rp22,37 triliun, dan kuliner Rp20,38 triliun. Ada juga musik mendapatkan investasi sebanyak Rp4,25 triliun, pengembang gim Rp1,86 triliun dan film, animasi, video sebanyak Rp1,64 triliun.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!