Bupati Banyumas Percaya Kemampuan Genjah
📅 Jumat, 30 Jan 2026, 15:25 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
BANYUMAS – Kemampuan genjah luar biasa dan diyakini bisa menjadi penopang ekonomi wilayah. Maka, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mendorong pengembangan kelapa genjah sebagai strategi memperkuat posisi Banyumas Raya. Ini khususnya Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, sebagai sentra ekspor gula semut dunia sekaligus meningkatkan kesejahteraan penderes atau penyadap nira di wilayah pedesaan.
Ditemui usai acara “Kick Off Implementasi Proyek DeveloPPP Pemberdayaan Petani Bersama IMC Melalui Budidaya Kelapa Genjah di Kabupaten Banyumas” yang digelar Pendopo Si Panji, Purwokerto, Banyumas, Jumat, Bupati mengatakan, kebutuhan gula semut global saat ini sangat besar.
Sekitar 90 persen pasokan dunia berasal dari Indonesia, dengan sekitar 80 persen di antaranya disumbang oleh wilayah Banyumas Raya yang meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara.
“Ini peluang yang luar biasa. Karena itu saya konsentrasi agar Banyumas ke depan menjadi pusat ekspor gula semut seperti gula kelapa,” katanya menanggapi program develoPPP yang terbentuk atas kerja sama Kementerian Pertanian serta Kementerian Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (BMZ) Jerman melalui program pendanaan develoPPP Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH dan PT Integral Mulia Cipta (IMC) tersebut.
Menurut dia, pengembangan kelapa genjah memiliki dampak ekonomi dan sosial yang signifikan karena mampu meningkatkan produktivitas penderes sekaligus menekan risiko kecelakaan kerja. Selama ini, kata dia, penderes harus memanjat pohon kelapa dalam dengan ketinggian lebih dari 15 meter.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Setiap bulan selalu ada penderes yang jatuh dari pohon kelapa. Risikonya bisa patah tulang, lumpuh, bahkan meninggal dunia. Dengan kelapa genjah yang tingginya hanya 2-3 meter, risikonya jauh berkurang,” katanya.
Ia mengatakan, penderes yang sebelumnya hanya mampu menyadap sekitar 25 pohon kelapa per hari namun dengan kelapa genjah dapat menyadap hingga 100 pohon dalam waktu kerja yang relatif sama.
Dengan demikian, kata dia, produktivitas penderes nira kelapa bisa naik sampai empat kali lipat. “Kalaupun volume nira kelapa genjah hanya sekitar 75 persen dibanding kelapa dalam, pendapatan penderes tetap bisa meningkat hingga tiga kali lipat,” katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dari sisi kualitas, kata dia, gula semut yang dihasilkan dari kelapa genjah tidak memiliki perbedaan rasa dengan kelapa dalam sehingga tetap memenuhi standar pasar ekspor.
Bupati mengatakan, Pemerintah Kabupaten Banyumas telah menyiapkan sekitar 625 hektare lahan untuk pengembangan kelapa genjah dengan kebutuhan sekitar 125 bibit per hektare.
Sementara itu, Managing Director PT IMC Mario Ngensowidjaja menilai revitalisasi industri gula kelapa di Banyumas menjadi langkah strategis untuk mendukung ketahanan pangan nasional sekaligus menjaga keberlanjutan komoditas unggulan Indonesia di pasar global.
Menurut dia, industri gula kelapa nasional menghadapi tantangan mendasar, mulai dari belum adanya standarisasi produksi, keterbatasan mekanisasi, hingga menurunnya jumlah petani akibat faktor usia dan tingginya risiko kecelakaan kerja.
“Petani makin sedikit, pohon makin tinggi, petani makin tua, dan kecelakaan kerja sangat tinggi. Ini persoalan serius,” katanya.
Ia menegaskan, Indonesia saat ini merupakan pemasok utama gula kelapa dunia dengan kontribusi sekitar 80–90 persen pasokan global, sehingga keberlanjutan komoditas tersebut sangat penting bagi perekonomian nasional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!