FSGI: Pemerataan “AI” Masih Jadi Tantangan Guru di Daerah
📅 Selasa, 27 Jan 2026, 18:04 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: Puslapdik Kemendikdasmen
JAKARTA - Pemerataan pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di sekolah-sekolah Indonesia masih menjadi tantangan, terutama di daerah terpencil. Wakil Ketua Umum Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Pusat, Eka Ilham, menyoroti keterbatasan fasilitas dan pelatihan guru sebagai hambatan utama dalam penerapan AI di daerah.
“Kalau kami melihat, daerah-daerah seperti NTB, NTT, Papua, perlu ada ekstra dari daerah tersebut bagaimana mensosialisasikan program AI ini. Melalui workshop, melalui kegiatan-kegiatan pelatihan terhadap guru,” kata Eka, Senin (26/1).
Dia menilai pemerintah perlu memberikan perhatian khusus melalui pelatihan dan berkelanjutan agar implementasi AI tidak memperlebar kesenjangan kualitas pendidikan. Standarisasi pemanfaatan AI di sekolah juga dinilai penting agar teknologi tersebut memberi dampak positif bagi siswa.
Eka menuturkan bahwa pemanfaatan AI dalam pendidikan harus disikapi sebagai bagian dari kodrat zaman. Meski demikian, ia menegaskan peran guru tetap tidak tergantikan, terutama dalam membangun karakter dan motivasi peserta didik.
“Karena saya seorang guru, jadi saya melihat bahwa pendidikan hari ini harus mengikuti kodrat zaman. Dalam hal ini, seorang guru harus mampu mengikuti apa yang menjadi keinginan dari peserta didik yang ada di kelas dalam proses pembelajaran,” ujar dia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Eka, AI sangat membantu guru dalam menerapkan model pembelajaran berbasis teknologi. Namun, pendidikan tidak hanya soal kecepatan akses informasi, melainkan juga pembelajaran berbasis pengalaman, nilai, dan keteladanan.
Dia menilai AI hanya sebagai alat bantu untuk mencapai tujuan pembelajaran, bukan pengganti guru. “Guru adalah inspirator dan motivator, hal-hal seperti keteladanan dan pembentukan karakter tidak dimiliki oleh AI,” ujar dia.
Selain itu, Eka mengingatkan agar penggunaan AI tidak membuat siswa bersikap instan dalam menyelesaikan tugas. Menurutnya, pembelajaran berbasis riset lapangan, observasi, dan pengalaman langsung tetap harus dipertahankan, dengan guru sebagai aktor utama dalam proses tersebut.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Bagaimana tujuan pendidikan karakter yang diinginkan itu akan memberikan dampak yang baik atau dampak negatif dengan penggunaan AI ini. Di sinilah peran guru itu memberikan sebuah solusi yang paham kondisi kelas itu adalah guru itu sendiri,” ucap Eka.
Pandangan tersebut sejalan dengan Ketua Kelompok Riset Assessment dan Pembelajaran Pusat Riset Pendidikan BRIN, Syahrul Ramadhan. Ia menegaskan bahwa AI tidak akan menggantikan peran guru, melainkan hanya menggantikan pekerjaan-pekerjaan rutin dalam proses pembelajaran.
Syahrul menjelaskan, aspek kognitif memang dapat dibantu oleh AI, tetapi pengembangan soft skill tetap membutuhkan peran guru.Berbicara tentang soft skill, dengan teknikal skill, itu mau tidak mau harus ada unsur guru yang membantu siswa dan mengarahkan siswa,” katanya.
Menurut dia, pendidikan di era AI telah bergeser dari sekadar transfer pengetahuan menjadi transfer nilai. “Jadi kalau dulu proses belajar itu adalah transfer of knowledge, sekarang itu trennya adalah transfer of value,” ujar Syahrul. ils/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!