Tangan-Tangan Penolong yang Menghidupkan Harapan di Aceh Tamiang
📅 Jumat, 16 Jan 2026, 10:56 WIB | Oleh: Yebdi TrismarSebagai ibu menyusui, Vika juga mengalami luka di puting payudaranya karena bayinya yang berusia lima bulan terus menggigit, tanpa asupan makanan lain. Luka itu, bahkan tak sempat ia rasakan, tertutup rasa panik dan kelelahan.
Ancaman ISPA
Ancaman pascabanjir pun mengintai. Penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), luka terbuka, dan penyakit menular mulai bermunculan. Pahala Sinaga (43) adalah salah satunya. Kaki kanannya tertusuk paku, saat membersihkan lumpur di rumahnya. Paku itu tersembunyi di balik endapan banjir, sedangkan kaki kirinya sudah cacat sejak lama.
Ia sempat datang ke puskesmas, namun perban belum tersedia. “Waktu itu cuma dikasih obat,” katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Beban Pahala tak berhenti di situ. Kontrakan miliknya di tepi sungai hanyut terbawa banjir. Penyewa meminta ganti rugi setengah tahun sewa yang sudah dibayarkan.
Sementara itu, Sartini (45) datang membawa dua anaknya, yakni Abrina (3) dan Yusuf (5) yang mengalami batuk tak kunjung sembuh selama dua pekan. Ia sendiri merasakan kebas di kedua tangannya. Gejala-gejala pascabanjir seperti ini terus berdatangan, sementara bantuan dana tunggu hunian rumah dari pemerintah masih dalam tahap pendataan di tingkat desa.
Di tengah semua keterbatasan itu, tenaga kesehatan di Aceh Tamiang tetap berdiri. Dengan tubuh lelah, rumah rusak, dan trauma yang belum pulih, mereka menjalani peran ganda: sebagai korban, sekaligus penolong.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Tamiang dr Mustakim mengatakan sebanyak 1.253 tenaga kesehatan tetap memberikan pelayanan dengan dukungan Kemenkes, TNI-Polri, lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta organisasi profesi, seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI) hingga BUMN/BUMD.
Bencana memang tak pernah menyisakan apa-apa, selain luka dan trauma berkepanjangan. Resiliensi dari tangan-tangan kecil para tenaga kesehatan yang setiap hari berjuang menyembuhkan warga Aceh Tamiang menjadi bukti bahwa setiap pengorbanan akan selalu menjadi obat yang menyembuhkan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!