Tangan-Tangan Penolong yang Menghidupkan Harapan di Aceh Tamiang
📅 Jumat, 16 Jan 2026, 10:56 WIB | Oleh: Yebdi TrismarDi tengah lumpur yang belum sepenuhnya mengering dan bau air banjir yang masih menyengat, Purwono menjalani hari-hari yang tak pernah ia bayangkan, sebelumnya. Ia terus mengabdikan dirinya untuk masyarakat, berusaha tidak tumbang, bahkan ketika dirinya sendiri ikut menjadi korban bencana.
Ketika banjir datang, sambil tetap mencarikan rujukan untuk pasien-pasien yang sebelumnya dirawat di Puskesmas Tamiang Hulu, Purwono juga harus mengantarkan anaknya yang berusia tujuh tahun untuk operasi usus buntu ke Rumah Sakit Umum Mahkota Bidadari di Medan, Sumatera Utara. Hanya menggunakan "kereta" atau sepeda motor, ia, sang istri, dan anaknya yang diapit di tengah menempuh perjalanan selama hampir dua jam menerjang jalanan yang masih dipenuhi lumpur tebal.
Banjir besar yang melanda wilayah Aceh Tamiang tak hanya merusak rumah warga, tetapi juga melumpuhkan sistem layanan kesehatan di tingkat paling dasar. Puskesmas Tamiang Hulu, yang menjadi tumpuan ribuan warga, hanya memiliki tiga dokter, yakni satu dokter umum dan dua dokter gigi, serta sekitar 90 staf. Hampir 95 persen dari seluruh staf puskesmas juga terdampak banjir.
“Semua staf kami korban. Rumah terendam, barang habis, keluarga juga terdampak,” kata Purwono.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meskipun demikian, pelayanan tak bisa berhenti. Dengan kondisi serba terbatas, para tenaga kesehatan bergantian datang ke puskesmas, siapapun yang rumahnya lebih dulu bisa dibersihkan, atau yang lokasinya paling dekat.
“Pelayanan ini pelayanan dasar. Orang lagi kena musibah, sakit pula. Mau tidak mau kami harus tetap jalan,” ujarnya.
Hari-hari awal adalah masa paling berat. Selama hampir sepuluh hari, belum ada relawan kesehatan yang datang. Rujukan pasien gawat darurat pun menjadi tantangan besar, mengingat keterbatasan fasilitas dan akses. Purwono harus menghubungi rekan sejawat di luar Aceh Tamiang, berharap ada rumah sakit yang bersedia menerima pasien dalam kondisi darurat.
Harapan mulai tumbuh, ketika bantuan berdatangan. Alat-alat kesehatan dikirim oleh berbagai pihak. Kehadiran relawan, termasuk konten kreator Ferry Irwandi dan Agam Rinjani yang menjadikan area sekitar puskesmas sebagai posko, menjadi titik balik.
Mereka, bahkan menginap di rumah Purwono. Bersih-bersih puskesmas dibantu oleh relawan, Wanadri, prajurit TNI, dan pemadam kebakaran. Prosesnya hampir tiga hari.
Jika Purwono berjuang menjaga sistem tetap hidup, Vika (30), seorang tenaga kesehatan, berjuang mempertahankan hidup keluarganya sendiri. Bersama 37 orang lainnya, ia bertahan di atas atap rumah selama empat hari, tanpa makanan yang layak. Delapan bayi berada di antara mereka.
Untuk kebutuhan makan dilempar, nasi dibungkus dengan plastik, dibagi-bagi. Orang-orang yang dewasa tidak makan karena mementingkan anal-anak, khususnya bayi yang harus mendapat asupan.
Air bersih tak tersedia. Bayi-bayi mulai lemah dan menangis, tanpa henti. Dalam kondisi itu, Vika mengaku sudah pasrah.
Dia berpikir, kalau memang tidak bisa bertahan, nyawanya siap diambil oleh Allah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!