Momentum Tahun Baru, Ekonomi Kreatif Gaspol Dongkrak PDB
📅 Minggu, 11 Jan 2026, 20:35 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ HO-Kementerian UMKM
JAKARTA – Sektor ekonomi kreatif memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) karena bertumpu pada nilai tambah berbasis ide, inovasi, dan talenta, bukan semata eksploitasi sumber daya alam.
Dengan karakter padat karya dan adaptif terhadap teknologi digital, ekonomi kreatif mampu menciptakan lapangan kerja baru, memperluas basis usaha, serta meningkatkan daya saing ekspor jasa dan produk bernilai tinggi.
Dalam jangka menengah-panjang, penguatan ekosistem ekonomi kreatif menjadi instrumen penting untuk menopang pertumbuhan PDB yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan tahan terhadap guncangan ekonomi global.
Direktorat Kajian Manajemen Strategis Kementerian Ekonomi Kreatif mencatatkan sektor ekonomi kreatif berperan signifikan terhadap pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) selama momentum libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026 mencapai Rp24,46 triliun, dari total tambahan PDB nasional sebesar Rp48,56 triliun.
Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa dampak Nataru tidak bersifat sesaat, melainkan mencerminkan potensi strategis yang dapat dikelola secara berkelanjutan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Data ini menunjukkan bahwa ekonomi kreatif bukan hanya ikut terdorong oleh momentum libur panjang, tetapi mampu menjadi tulang punggung perputaran ekonomi jika dirancang sebagai strategi tahunan yang terintegrasi,” ujar Menteri Ekraf dalam keterangan pers yang diterima di Jakarta, Minggu.
Kajian Kementerian Ekraf menunjukkan perubahan perilaku konsumen yang semakin mengarah pada produk kreatif, seperti kuliner lokal, fesyen, kriya, serta pengalaman hiburan dan seni.
Pergeseran minat ini memperkuat posisi subsektor ekraf sebagai pengisi utama belanja masyarakat selama periode liburan, sekaligus membuka ruang perluasan pasar bagi jenama lokal di berbagai daerah.
Sebaiknya Anda baca juga:
Berdasarkan jejak digital konsumen melalui Google Trends, minat terhadap kuliner meningkat tajam pada 28 Desember 2025, sementara pencarian terkait hotel kembali melonjak pada 31 Desember 2025 saat puncak perayaan.
Pada 25–26 Desember 2025, minat terhadap hiburan keluarga, termasuk bioskop, berada di titik tertinggi. Pola ini menunjukkan bahwa konsumsi ekraf mengikuti ritme liburan dan dapat dipetakan untuk mendukung perencanaan distribusi serta promosi produk kreatif.
Hasil survei kinerja usaha juga mencerminkan dampak positif terhadap pelaku. Sebanyak 76,93 persen responden melaporkan peningkatan penjualan, dan 73,08 persen mencatat kenaikan keuntungan selama Nataru. Mayoritas pelaku berada pada skala mikro, dengan subsektor kuliner, fesyen, dan kriya menjadi penyumbang terbesar terhadap lonjakan transaksi.
Dari sisi belanja wisatawan, pengeluaran terbesar masih dialokasikan untuk transportasi dan akomodasi, namun belanja produk kreatif seperti makanan, cinderamata, dan belanja ritel mencapai rata-rata Rp858 ribu per orang.
Angka ini memperlihatkan bahwa produk ekraf memiliki ruang besar untuk terus diperkuat dalam rantai konsumsi wisata dan kegiatan liburan masyarakat.
Kontribusi langsung terbesar terhadap PDB ekraf selama Nataru berasal dari subsektor kuliner sebesar Rp19,9 triliun, diikuti fesyen Rp3,9 triliun, dan kriya Rp0,24 triliun. Data ini menegaskan pentingnya penguatan rantai pasok, kapasitas produksi, serta akses pembiayaan bagi pelaku agar dapat merespons lonjakan permintaan secara optimal.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!