Internet Iran Mendadak Lumpuh, Protes Ekonomi Meluas dan Puluhan Orang Tewas
📅 Jumat, 09 Jan 2026, 16:20 WIB | Oleh: Muhammad Daniel Ramadhan
Doc: Financial Times
JAKARTA - Iran dilaporkan mengalami pemadaman internet hampir total pada Kamis malam waktu setempat, di tengah meluasnya gelombang protes akibat krisis ekonomi yang kian memburuk. Aksi demonstrasi tersebut dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 45 orang sejak pecah hampir dua pekan lalu, meningkatkan tekanan terhadap pemerintahan Teheran.
Pemantau kebebasan internet NetBlocks pertama kali melaporkan pemutusan jaringan secara nasional, meski penyebab pastinya belum dijelaskan secara resmi. Namun, langkah serupa pernah dilakukan otoritas Iran pada gelombang protes sebelumnya sebagai upaya membatasi arus informasi dan koordinasi massa.
Sebelumnya, NetBlocks juga mencatat gangguan internet di kota Kermanshah, wilayah barat Iran, seiring meningkatnya operasi keamanan terhadap para demonstran. Lembaga pemantau berbasis di Norwegia, Iran Human Rights (IHR), menyebut aparat keamanan telah menewaskan sedikitnya 45 orang, termasuk delapan anak-anak, sejak aksi protes dimulai akhir Desember.
Aksi mogok nasional turut memperluas tekanan. Sejumlah toko di wilayah Kurdi dan puluhan kota lain memilih tutup setelah tujuh kelompok politik Kurdi menyerukan pemogokan umum. Kelompok HAM Hengaw membagikan rekaman toko-toko yang tutup di provinsi Ilam, Kermanshah, dan Lorestan, serta menuding aparat menembaki demonstran di Kermanshah dan kota Kamyaran hingga melukai sejumlah orang.
Pada Kamis, unjuk rasa dilaporkan telah menjalar ke seluruh 31 provinsi di Iran. Di Provinsi Fars, demonstran merobohkan patung Qassem Suleimani, mantan komandan pasukan elite Garda Revolusi Iran al-Quds, yang selama ini dipuja pendukung pemerintah. Rekaman terverifikasi menunjukkan massa bersorak saat patung tersebut tumbang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Aksi protes berlanjut hingga malam hari di sejumlah kota besar, termasuk Teheran dan Abadan. IHR mencatat Rabu sebagai hari paling berdarah dengan sedikitnya 13 korban jiwa. Ratusan orang dilaporkan terluka dan lebih dari 2.000 orang ditangkap.
Di tengah eskalasi, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyerukan penanganan demonstrasi dengan menahan diri. Ia meminta aparat menghindari kekerasan serta mendorong dialog dan keterbukaan terhadap tuntutan rakyat.
Gelombang protes dipicu anjloknya nilai mata uang Iran dan memburuknya kondisi ekonomi. Pemerintah baru-baru ini menghentikan kurs subsidi untuk impor, kebijakan yang langsung memicu lonjakan harga kebutuhan pokok. Harga pangan dilaporkan naik lebih dari 70 persen dalam setahun terakhir, sementara harga obat meningkat sekitar 50 persen.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pemerintah menyebut krisis ekonomi sulit diatasi karena faktor eksternal, terutama sanksi Barat terkait program nuklir Iran. Sementara itu, kelompok HAM menuduh aparat menggunakan kekuatan berlebihan, termasuk menahan demonstran yang terluka di rumah sakit.
Situasi Iran juga menjadi sorotan internasional. Amerika Serikat kembali memperingatkan Teheran agar tidak menindak demonstran secara brutal, sementara Jerman mengecam penggunaan kekerasan berlebihan. Di dalam negeri, pemerintah Iran menuding adanya campur tangan asing dan menyebut aksi protes telah dibajak oleh kelompok perusuh.
Meski skalanya belum sebesar demonstrasi “Woman, Life, Freedom” pada 2022, gelombang protes kali ini dinilai sebagai yang terbesar dalam tiga tahun terakhir dan mencerminkan rapuhnya kondisi sosial-ekonomi Iran saat ini.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!