• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • 4 Kebiasaan yang Perlu Dih...

4 Kebiasaan yang Perlu Dihindari untuk Mengurangi Lemak Menurut Ahli Nutrisi

Senin, 05 Jan 2026, 14:35 WIB

JAKARTA - Lemak visceral atau lemak yang tersimpan di sekitar organ perut dikaitkan dengan beberapa masalah kesehatan.

Pendiri wisebitenutrition Raksha Shah, M.A., RDN menyampaikan bahwa kadar lemak di perut yang lebih tinggi dikaitkan dengan resistensi insulin, diabetes tipe 2, penyakit hati berlemak, dan penyakit jantung.

Ket. Foto: — Sumber: IST

Sebagaimana dikutip dalam siaran Eating Well pada Minggu (4/1), dia mengemukakan perlunya memahami apa saja yang perlu dihindari dalam upaya untuk mengurangi lemak perut dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan.

Empat kebiasaan berikut menurut ahli dan praktisi nutrisi sebaiknya dihindari saat berusaha untuk mengurangi kadar lemak di sekitar perut.

1. Minum minuman bersoda manis

Minuman soda manis, yang kadar gula tambahannya banyak, bisa menimbulkan lonjakan kalori tetapi tidak menimbulkan rasa kenyang atau memberikan nutrisi apa pun. Karena memiliki kadar gula tambahan tinggi, minuman ini dapat dengan mudah menyebabkan konsumsi gula berlebihan.

Untuk mengatasi kelebihan gula ini, hati akan mengubahnya menjadi lemak, yang seiring waktu akan menumpuk di sekitar organ.

Minum soda manis dikaitkan dengan akumulasi lemak visceral yang lebih banyak, jadi lebih baik memilih air putih atau teh tanpa gula kalau ingin menurunkan kadar lemak di perut.

2. Tidak mengelola stres

Stres yang berkelanjutan dan tidak dikelola dapat menyulitkan upaya untuk mengurangi lema perut. Praktisi industri makanan dan nutrisi Toby Amidor, M.S., RD menyampaikan bahwa stres kronis tidak hanya memengaruhi suasana hati, tetapi juga dapat mengganggu keseimbangan hormon dalam tubuh dan menyebabkan penumpukan lemak visceral di berbagai area.

Orang dengan tingkat stres yang lebih tinggi menurut hasil studi cenderung memiliki lebih banyak lemak visceral. Ini terjadi karena ketika stres, tubuh melepaskan lebih banyak hormon kortisol, yang telah secara langsung dikaitkan dengan peningkatan penyimpanan lemak di perut.

Berolahraga atau meluangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang disukai dapat menjadi pilihan cara untuk mengelola stres.


3. Merokok

Merokok dalam jangka panjang dan ketergantungan terhadap nikotin yang lebih besar dikaitkan dengan peningkatan lemak visceral.

Nikotin dapat meningkatkan kadar kortisol, hormon stres yang mendorong penyimpanan lemak di area perut. Redistribusi lemak ini dapat terjadi bahkan pada individu yang tampak kurus, menjadikan merokok sebagai faktor risiko tersembunyi bagi akumulasi lemak visceral.

4. Kurang tidur

Amidor mengatakan bahwa kurang tidur kronis dapat mengacaukan keseimbangan hormon, terutama hormon yang mengatur nafsu makan dan stres.

Kalau kurang tidur, tubuh cenderung memproduksi lebih banyak ghrelin atau "hormon lapar" dan lebih sedikit leptin, hormon yang memberi sinyal rasa kenyang.

Ketidakseimbangan hormon ini dapat menyebabkan peningkatan keinginan makan yang mengakibatkan asupan kalori berlebih, yang berkontribusi pada pembentukan lemak visceral.

Selain itu, kurang tidur juga meningkatkan kadar hormon stres, kortisol.

Mengupayakan tidur berkualitas selama tujuh hingga sembilan jam setiap malam dapat membantu mengatur keseimbangan hormon, mengelola nafsu makan, dan mengurangi stres, menciptakan lingkungan yang lebih menguntungkan bagi tubuh untuk mengurangi lemak perut.

Amidor menyampaikan bahwa membangun jadwal tidur yang konsisten dan menciptakan rutinitas tidur yang menenangkan dapat secara signifikan meningkatkan kualitas tidur dan memperbaiki kesehatan.

Redaktur: Lili Lestari

Penulis: Antara

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.