• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Fungsi Otak pada Alzheimer...

Fungsi Otak pada Alzheimer Stadium Lanjut Ternyata Masih Bisa Dipulihkan

Senin, 29 Des 2025, 05:05 WIB

S

ebuah studi tim University Hospitals Cleveland Medical Center mengungkap bahwa pemulihan keseimbangan energi di otak tidak hanya berpotensi memperlambat penyakit Alzheimer, tetapi juga mampu membalikkan kerusakan yang telah terjadi. Temuan ini menantang paradigma lama tentang Alzheimer yang selama lebih dari satu abad dianggap sebagai kondisi permanen dan tidak dapat dipulihkan.

Ket. Foto: Foto ini, yang diambil pada 9 September 2020, menunjukkan para pasien Alzheimer saat melakukan aktivitas fisik di lokasi perawatan Alzheimer Landais di desa Dax, Prancis barat daya. — Sumber: Philippe LOPEZ / AFP

Selama ini, karena Alzheimer dipandang tidak dapat disembuhkan, sebagian besar penelitian difokuskan pada strategi pencegahan atau memperlambat laju penyakit. Hampir tidak ada upaya ilmiah yang secara eksplisit bertujuan memulihkan penyakit dan memulihkan kemampuan kognitif yang hilang.

Dalam penelitian terbaru ini, para peneliti mempelajari beberapa model tikus penyakit Alzheimer secara bersamaan dengan jaringan otak manusia penderita Alzheimer. Dari pendekatan tersebut, mereka mengidentifikasi masalah biologis krusial yang berada di inti penyakit.

Penelitian mereka menemukan bahwa ketidakmampuan otak mempertahankan kadar molekul energi seluler penting yang dikenal sebagai NAD+ memainkan peran utama dalam memicu dan mendorong perkembangan ­Alzheimer.

Pada model hewan, mempertahankan kadar NAD+ otak dalam kondisi normal terbukti mampu mencegah perkembangan Alzheimer. Temuan yang lebih mengejutkan muncul ketika keseimbangan NAD+ dipulihkan setelah penyakit memasuki tahap lanjut. Dalam kondisi tersebut, otak menunjukkan kemampuan untuk memperbaiki kerusakan yang terjadi dan memulihkan fungsi kognitif secara menyeluruh.

Hasil ini menunjukkan bahwa terapi yang menargetkan pemulihan keseimbangan energi otak berpotensi membawa pengobatan Alzheimer melampaui sekadar memperlambat penurunan fungsi, menuju pemulihan yang bermakna.

Selain itu, temuan ini juga membuka peluang penelitian lanjutan, termasuk eksplorasi strategi terapeutik komplementer serta uji klinis yang dirancang secara cermat untuk menilai apakah hasil serupa dapat diterapkan pada pasien manusia.

Pandangan Lama

Selama lebih dari satu abad, penyakit Alzheimer (Alzheimer’s disease/AD) secara luas dipandang sebagai kondisi yang tidak dapat disembuhkan. Keyakinan ini membentuk arah penelitian global, yang lebih menitikberatkan pada pencegahan atau penghambatan progresivitas penyakit, bukan pada pemulihan fungsi otak yang telah rusak.

Bahkan setelah puluhan tahun riset dan investasi miliaran dolar, belum pernah ada uji coba obat Alzheimer yang secara khusus dirancang untuk membalikkan penyakit dan memulihkan kemampuan kognitif.

Asumsi yang telah lama dianut tersebut kini ditantang oleh para peneliti dari University Hospitals, Case Western Reserve University, dan Louis Stokes Cleveland VA Medical Center. Penelitian mereka berangkat dari pertanyaan mendasar dan berani: apakah otak yang telah mengalami kerusakan berat akibat Alzheimer stadium lanjut masih memiliki kemampuan untuk pulih?

Kegagalan Energi Otak

Penelitian ini dipimpin oleh Kalyani Chaubey, PhD, dari Pieper Laboratory dan dipublikasikan pada 22 Desember dalam jurnal Cell Reports Medicine. Dengan menelaah jaringan otak manusia penderita Alzheimer serta sejumlah model tikus praklinis, tim peneliti berhasil mengidentifikasi kegagalan biologis utama yang berada di pusat penyakit tersebut.

Mereka menemukan bahwa ketidakmampuan otak mempertahankan kadar normal NAD+, molekul energi seluler yang sangat penting, memainkan peran sentral dalam perkembangan Alzheimer. Yang signifikan, menjaga keseimbangan NAD+ yang tepat tidak hanya mencegah penyakit, tetapi juga mampu membalikkan kondisi Alzheimer dalam model eksperimental.

Secara alami, kadar NAD+ menurun di seluruh tubuh, termasuk di otak, seiring bertambahnya usia. Ketika kadar ini turun terlalu rendah, sel kehilangan kemampuan menjalankan proses vital yang dibutuhkan untuk fungsi dan kelangsungan hidup normal. Para peneliti menemukan bahwa penurunan NAD+ ini terjadi jauh lebih parah di otak penderita Alzheimer. Pola yang sama juga ditemukan pada model tikus penyakit tersebut.

Pemodelan Alzheimer

Meskipun Alzheimer hanya terjadi pada manusia, para ilmuwan mempelajarinya menggunakan tikus yang direkayasa secara genetik untuk membawa mutasi yang diketahui menyebabkan Alzheimer pada manusia. Dalam penelitian ini, dua model tikus digunakan. Satu kelompok membawa beberapa mutasi manusia yang memengaruhi pemrosesan protein amiloid, sementara kelompok lainnya membawa mutasi manusia pada protein tau.

Kelainan pada protein amiloid dan tau merupakan ciri paling awal dan paling signifikan dari Alzheimer. Pada kedua model tikus, mutasi tersebut memicu kerusakan otak yang luas dan sangat menyerupai kondisi pada manusia.

Kerusakan itu mencakup gangguan sawar darah-otak, kerusakan serabut saraf, peradangan kronis, berkurangnya pembentukan neuron baru di hipokampus, melemahnya komunikasi antar sel otak, serta kerusakan oksidatif yang meluas. Selain itu, tikus-tikus tersebut juga menunjukkan gangguan memori dan kognitif yang berat, menyerupai gejala yang dialami oleh penderita Alzheimer.

Pemulihan Kerusakan Alzheimer

Setelah mengonfirmasi bahwa kadar NAD+ menurun tajam di otak manusia dan tikus penderita Alzheimer, tim peneliti mengeksplorasi dua skenario. Pertama, mereka menguji apakah menjaga keseimbangan NAD+ sebelum gejala muncul dapat mencegah Alzheimer. Kedua, mereka menilai apakah memulihkan keseimbangan tersebut setelah penyakit berkembang dapat membalikkan kerusakan yang telah terjadi.

Pendekatan ini didasarkan pada penelitian sebelumnya yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences USA, yang menunjukkan bahwa pemulihan keseimbangan NAD+ mampu menghasilkan pemulihan struktural dan fungsional setelah cedera otak traumatis yang berat dan ­berkepanjangan.

Dalam studi terbaru ini, para peneliti menggunakan senyawa farmakologis yang telah dikarakterisasi dengan baik, yaitu P7C3-A20, yang dikembangkan di laboratorium Pieper, untuk memulihkan keseimbangan NAD+. hay

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Haryo Brono

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.