Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Banjir Bandang dan Longsor Terjang Sejumlah Wilayah, Ibu dan Anak Jadi Kelompok Paling Rentan

📅 Kamis, 25 Des 2025, 07:07 WIB | Oleh:
Banjir Bandang dan Longsor Terjang Sejumlah Wilayah, Ibu dan Anak Jadi Kelompok Paling Rentan Doc: Yayasan Abhipraya
Ket. Banjir bandang dan longsor membuat ibu dan anak menjadi kelompok paling rentan, termasuk risiko salah asupan gizi.

Bencana banjir bandang dan longsor menerjang sejumlah wilayah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatera Barat beberapa waktu lalu. Hingga 17 Desember, tercatat sekitar 577.600 warga terpaksa mengungsi dan kehilangan kehidupan normal mereka. Situasi darurat ini tidak hanya menimbulkan kerusakan infrastruktur, tetapi juga berdampak serius terhadap kesehatan dan pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Di tengah keterbatasan akses pangan, air bersih, dan layanan kesehatan, kelompok rentan seperti balita, anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui menjadi pihak yang paling terdampak. Kebutuhan gizi mereka tetap harus terpenuhi meskipun berada dalam kondisi darurat. Tanpa asupan yang memadai, risiko gangguan kesehatan dan penurunan daya tahan tubuh semakin meningkat, terutama di lingkungan pengungsian yang rawan penyakit.

Mengingat Indonesia berada di wilayah rawan bencana alam, kesiapsiagaan menjadi hal yang mutlak. Tidak hanya pada aspek tanggap darurat, tetapi juga pada ketahanan suplai pangan bergizi. Ketersediaan asupan yang tepat, termasuk sumber gizi yang sesuai untuk anak, menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan kelompok rentan di situasi krisis dan pascabencana.

Namun dalam kondisi darurat, risiko salah memilih asupan gizi juga meningkat. Keterbatasan pilihan, minimnya informasi, serta kebiasaan lama di masyarakat kerap membuat orang tua memberikan produk yang keliru kepada anak. Salah satu risiko yang sering muncul di wilayah bencana adalah pemberian kental manis kepada anak, yang masih dianggap sebagai pengganti susu. Hal ini perlu diperhatikan, sebab kental manis kerap menjadi salah satu produk yang didistribusikan dalam bantuan sosial masyarakat.

Sebagaimana diketahui, kental manis bukanlah susu dan tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi anak, terutama balita. Produk ini memiliki kandungan gula yang sangat tinggi dan rendah zat gizi penting seperti protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral. Pemberian kental manis pada anak di pengungsian berisiko menyebabkan kekurangan gizi, menurunkan daya tahan tubuh, serta memperburuk kerentanan terhadap penyakit di tengah kondisi sanitasi yang terbatas.

Kebutuhan gizi anak, khususnya balita, berbeda sesuai usia dan kondisi kesehatannya. Anak memerlukan asupan gizi seimbang untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan optimal, terlebih di situasi pascabencana yang penuh tekanan. Oleh karena itu, edukasi kepada orang tua dan pengasuh di lokasi bencana menjadi sangat penting agar tidak salah memilih asupan pangan.

Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan diharapkan dapat memastikan bantuan pangan yang disalurkan ke wilayah terdampak bencana benar-benar sesuai dengan kebutuhan gizi ibu dan anak. Upaya ini menjadi bagian penting dari perlindungan kelompok rentan, agar dampak bencana tidak berujung pada masalah kesehatan jangka panjang, terutama bagi generasi masa depan.

Desakan Akademisi Kepada Pemerintah

Isu pangan untuk anak seperti susu, kerap diwarnai perbincangan di tengah masyarakat sepanjang tahun 2025. Perbincangan ini mencakup pelarangan susu pertumbuhan di situasi tertentu, kontroversi susu UHT dalam Program Makan Bergizi Gratis, hingga masih bertahannya persepsi keliru tentang kental manis.

Permasalahan kesalahan konsumsi kental manis kembali terungkap melalui berbagai penelitian akademisi dari Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Universitas Negeri Semarang (Unnes), dan Universitas Aisyiyah Yogyakarta. Penelitian di sejumlah wilayah menunjukkan praktik pemberian kental manis kepada balita masih ditemukan di tengah masyarakat.

Temuan dari penelitian memperlihatkan bahwa persoalan gizi anak berkaitan erat dengan pemahaman yang keliru mengenai kandungan dan fungsi produk pangan. Di sisi lain, faktor sosial dan ekonomi turut mempengaruhi pilihan konsumsi keluarga.

Guru besar ahli gizi UMJ, Dr. Tria Astika Endah Permatasari sebagai salah satu peneliti yang terlibat dalam penelitian pun mendesak untuk memberikan atensi dalam isu ini. Sebab, jika tidak mendapat perhatian dari pemerintah, akan memberi dampak buruk kepada anak-anak seperti munculnya berbagai Penyakit Tidak Menular (PTM).

“Harapannya tentu pemerintah berani dan tegas terkait dengan edukasi dan kebijakan ini, karena generasi manis hari ini akan berujung masa depan pahit,” kata Prof Tria.

Inisiatif Masyarakat Perkuat Pendampingan Gizi Anak

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

SMAN 3 Kota Sorong Terima Pendaftar SPMB Capai 636 Orang

29 menit yang lalu | Bambang Wijanarko

Daerah
SMAN 3 Kota Sorong Terima P...
  • Bukan Sekadar Pesta Budaya, Festival Tabut 2026 Ditarget Dongkrak Kas Daerah
    Preview komentar:
    Cara menghubungi call center KrediOne: Hubungi call center ...
    Cara menghubungi call center KrediOne: Hubungi call center ...
  • 5 Pengelola Wisata Pantai di Tulungagung Stop Tarik Retribusi, Ada Apa Ya?
    Preview komentar:
    Cara menghubungi call center KrediOne: Hubungi call center ...
    Cara menghubungi call center KrediOne: Hubungi call center ...
  • Iran Kembali akan Tutup Selat Hormuz sebagai Protes Serangan Israel di Lebanon
    Preview komentar:
    Cara menghubungi call center KrediOne: Hubungi call center ...
    Cara menghubungi call center KrediOne: Hubungi call center ...
Jadi Tersangka, Roy Suryo dan Tifa Jatuh Sakit, Dirawat Inap di RS Polri

Jadi Tersangka, Roy Suryo dan Tifa Jatuh Sakit, Dirawat Inap di RS Polri

20 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.