Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Regulasi Plin-Plan: Biang Kerok Mandeknya Investasi Indonesia!

📅 Rabu, 10 Des 2025, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Regulasi Plin-Plan: Biang Kerok Mandeknya Investasi Indonesia! Doc: istimewa
Ket. Iklim Usaha - Inkonsistensi Regulasi Hambat Investasi

JAKARTA – Masalah klasik masih menjadi penghambat utama pertumbuhan investasi di Indonesia, mempertegas temuan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) yang menyoroti beragam kendala struktural dalam iklim usaha nasional. Di sisi lain, kualitas infrastruktur pendukung dan kepastian hukum yang belum merata juga terus menjadi perhatian.

Meski pemerintah telah melakukan reformasi melalui Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik atau Online Single Submission (OSS) dan berbagai insentif fiskal, efektivitas implementasi di lapangan masih menjadi tantangan. Temuan ini menunjukkan bahwa upaya menarik investasi tidak cukup hanya mengandalkan insentif, tetapi membutuhkan perbaikan mendasar pada tata kelola, koordinasi pusat–daerah, serta stabilitas regulasi untuk menciptakan ekosistem investasi yang benar-benar kompetitif.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, menyoroti persoalan klasik dalam tata kelola pemerintahan Indonesia, yakni pergantian pimpinan kerap diikuti perubahan kebijakan, baik di tingkat pusat maupun daerah.

"Ini sudah terjadi sejak dulu. Padahal Indonesia punya national plan yang dirancang oleh para pendiri bangsa. Seharusnya tetap stick on the plan," ucap Esther kepada Koran Jakarta, Selasa (9/12).

Dia mencontohkan Singapura yang memiliki national plan sebagai pedoman jangka panjang. Siapa pun pemimpin yang menjabat, arah kebijakan tetap konsisten karena semua terikat pada rencana nasional tersebut.

Kedua, Esther menekankan pentingnya kebijakan yang lahir dari riset, berbasis data dan teori, sehingga memiliki standar jelas. Singapura, ujarnya, mampu maju karena merumuskan kebijakan dengan fondasi penelitian yang kuat dan menjaga disiplin dalam menjalankan rencana yang telah ditetapkan.

Ketiga, dia menegaskan setiap kebijakan semestinya berangkat dari kepentingan publik dan kepentingan nasional, bukan kepentingan kelompok atau individu. Dia juga mengingatkan agar hukum tidak direkayasa demi investasi yang hanya menguntungkan oligarki, karena hal itu justru merusak integritas regulasi dan keadilan ekonomi.

“Masalah kepastian hukum di atas diperburuk oleh keruwetan birokrasi. Izin yang berbelit belit membuat investor enggan masuk ke Indonesia karena khawatir nanti banyak biaya yang tidak terduga,” ujarnya.

Butuh Ketegasan

Untuk itu, tegas Esther, pemerintah harus bertindak tegas agar investor merasa dilindungi oleh negara, namun faktanya tidak seperti itu. Masalah tersebut makin parah dengan biaya logistik yang sangat mahal.

Sebelumnya, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan kegelisahannya karena iklim investasi nasional yang berantakan mengakibatkan ekonomi indonesia tertinggal dibanding dengan negara tetangga. “The Economist bilang saya menghabiskan uang untuk keadaan susah sebesar 200 triliun. Padahal uangnya tidak habis hanya saya pindahkan saja (ke bank BUMN). Jadi majalah The Economist yang canggih itu ternyata tidak sepintar saya,” ujarnya dalam Pembukaan Rapimnas Kadin 2025, belum lama ini.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
  • Mohon Dukungan Doa! Paus Leo XIV Akan Jalani Operasi Paru-paru di Roma
    Turut mendoakan, semoga operasinya berjalan baik dan lancar ...
  • Peringkat FIFA Melesat, Timnas Indonesia Dipastikan Lolos Langsung ke Putaran Kedua Kualifikasi Piala Dunia 2030
    Masa depan timnas kita sepertinya makin cerah, sangat ...
  • Kolaborasi Industri dan Akademisi Diperkuat, Seequent Dorong Kapasitas Geosains Indonesia
    How can collaboration between industry and academic institutions ...
  • Mengapa Tak Banyak Mahasiswa Asing yang Mau Kuliah di Indonesia?
    What factors might discourage international students from pursuing ...
Advertisement
jjroyal-luwak
Advertisement
10 Event Jakarta Akhir Pekan 17-18 Oktober: Ada Synchronize Festival hingga BABYMONSTER

10 Event Jakarta Akhir Pekan 17-18 Oktober: Ada Synchronize Festival hingga BABYMONSTER

16 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.