Memimpikan Jakarta Hidup dalam Kondisi Nol Karbon
📅 Selasa, 09 Des 2025, 00:56 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
JAKARTA adalah salah satu kota tersibuk di dunia dengan aktivitas yang nyaris tidak pernah berhenti. Mereka adalah penduduk dari 8 kabupaten/kota penyangga Jakarta yang beraktivitas di ibu kota. Hal itu membuat Jakarta jauh lebih padat daripada jumlah penduduknya yang berjumlah 11 juta jiwa secara administratif. Kepadatan penduduk Jakarta juga disumbang arus urbanisasi dari berbagai daerah.
Beban polusi udara dan tingginya permintaan listrik, terutama pada jam kerja, kerap menjadi tantangan tersendiri bagi Jakarta. Kondisi tersebut membuat kota berjulukan megapolitan ini berada pada posisi rentan. Bila terjadi gangguan kecil pada pasokan energi, maka dapat berdampak luas terhadap produktivitas dan layanan publik.
Dengan konsentrasi kegiatan ekonomi yang tinggi, Jakarta tidak mungkin mengandalkan sumber energi sendiri. Ekonom Energi dari Universitas Padjadjaran, Yayan Satyakti, mengungkapkan, ketergantungan Jakarta pada sistem kelistrikan Jawa-Bali tidak bisa dihindari.Pasokan listrik dari luar wilayah justru menjadi penyangga utama untuk memastikan kegiatan ekonomi tetap berjalan tanpa gangguan.
Ketika pemerintah menyediakan infrastruktur publik yang andal, masyarakat pun akan menyesuaikan pola hidup dan konsumsi energinya. Yayan juga menerangkan, ketersediaan transportasi umum seperti MRT, LRT, KRL, dan TransJakarta menjadi contoh paling nyata dari pendekatan tersebut. Selain menjadi tulang punggung mobilitas harian, transportasi publik terutama yang berbasis listrik, jauh lebih hemat energi per orang dibandingkan kendaraan pribadi berbahan bakar fosil.
“Dengan semakin banyak warga yang beralih ke transportasi publik, maka beban penggunaan BBM dapat ditekan. Dalam jangka panjang, langkah ini membantu menurunkan emisi di tingkat kota tanpa mengganggu produktivitas ekonomi,” kata Yayan. Pemanfaatan energi surya di fasilitas publik seperti gedung pemerintah dan penerangan jalan umum dinilai paling rasional untuk diterapkan saat ini. Sebab, konsumsi listrik pada fasilitas tersebut bersifat tetap dan dapat diprediksi, sehingga perhitungan biaya dan manfaatnya lebih jelas dibandingkan sektor rumah tangga.
Sebaiknya Anda baca juga:
Yayan menjelaskan, meskipun biaya investasi awal pemasangan panel surya relatif besar, pengeluaran tersebut dapat ditebus melalui penghematan tagihan listrik dalam jangka menengah. Dalam beberapa tahun operasional, biaya listrik yang sebelumnya dibayarkan secara rutin dapat ditekan secara signifikan.
Penggunaan energi surya pada fasilitas publik tidak hanya menguntungkan secara anggaran, tetapi juga mendukung efisiensi energi dan kualitas lingkungan perkotaan. Sejalan dengan hal tersebut, Yayan memandang kendaraan listrik juga dinilai sebagai sektor yang paling cepat memberi dampak ekonomi dan lingkungan Jakarta. Hal ini karena sektor transportasi selama ini menjadi penyumbang konsumsi energi dan emisi terbesar perkotaan.
“Peralihan warga ke motor dan mobil listrik, menunjukkan bahwa transisi energi tidak lagi sebatas wacana, tetapi sudah masuk ke kehidupan sehari-hari warga,” kata dosen di Fakultas Ekonomi tersebut. Ya, kendaraan listrik kini menjadi salah satu moda transportasi yang juga menjadi pilihan gaya hidup warga Jakarta. Salah satunya terlihat dari Abel Adhi Kusuma, seorang karyawan swasta yang menggunakan motor listrik untuk beraktivitas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Keputusannya beralih ke motor listrik bukanlah sekadar ikut-ikutan. Bagi Abel, biaya pengisian energinya jauh lebih murah dari bensin. Selain itu, motor listrik menurut pira 31 tahun itu tidak membutuhkan perawatan yang rumit. Kendaraan listrik juga ramah suara, sehingga bila terpaksa harus melewati gang-gang kecil Jakarta saat menembus kemacetan tidak mengganggu penduduk.
Jika transisi ini dijalankan secara konsisten dan berbasis perhitungan ekonomi yang matang, maka Jakarta tidak hanya mampu menekan emisi seraya mencapai target net zero emission tetapi juga menjaga daya saing sebagai pusat ekonomi nasional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!