Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Hasan Nasbi Minta Publik Tidak Gegabah Menyimpulkan Penyebab Banjir Sumatera

📅 Minggu, 07 Des 2025, 16:40 WIB | Oleh: Tim Penulis
Hasan Nasbi Minta Publik Tidak Gegabah Menyimpulkan Penyebab Banjir Sumatera Doc: Antara
Ket. Mantan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan menyampaikan tanggapan atas sindiran antarmenteri yang terjadi setelah banjir melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera, yang diunggah melalui akun media sosialnya microphone.hasan.nasbi di Jakarta, Minggu (7/12).

Jakarta - Mantan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi mengajak seluruh pihak untuk tidak terburu-buru menyimpulkan akar masalah banjir di Sumatera, termasuk sindiran kepada pejabat menteri yang baru setahun menjabat.

Pernyataan itu disampaikan Hasan melalui media sosialnya di Jakarta, Minggu (7/12), merespons ajakan taubatan nasuha (tobat) yang disampaikan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Indonesia (PMK) Muhaimin Iskandar kepada Raja Juli Antoni selaku Menteri Kehutanan, Bahlil Lahadalia sebagai Menteri ESDM, dan Hanif Faisol Nurofiq yang menjabat Menteri Lingkungan Hidup.

"Kalau saya sih mau menggarisbawahi dua hal, yang berhak memperingatkan anggota kabinet itu bosnya kabinet, bosnya kabinet itu presiden. Hanya presiden yang bisa memberikan peringatan kepada anggota kabinet, baik itu secara tertutup maupun terbuka," ujarnya.

Menurutnya, kesalahan seorang menteri tidak bisa dinilai hanya berdasarkan satu kejadian, melainkan harus dilihat dari akar permasalahan yang mungkin sudah berlangsung puluhan tahun.

Hasan menyoroti munculnya sindiran antarmenteri yang terjadi setelah banjir melanda tiga provinsi di Pulau Sumatera. Menurutnya, tindakan saling menyindir justru mengaburkan persoalan utama.

Dia mengatakan, adu sindiran hanya membuat kabinet tampak tidak solid di mata publik. Padahal, negara membutuhkan kekompakan dalam penanganan bencana.

“Padahal, kita justru sekarang lagi butuh solid-solidnya ini,” ujarnya.

Hasan kemudian mengingatkan, kesalahan dalam penanganan lingkungan atau banjir tidak boleh langsung diarahkan kepada salah satu menteri. Apalagi menteri tersebut baru menjabat sekitar satu tahun.

“Ini bukan kesalahan satu orang dua orang, coba lihat dulu kesalahannya menteri yang bersangkutan? Gara-gara satu kejadian mereka baru jadi menteri satu tahun, bener enggak ini kesalahan mereka?” katanya.

Hasan mempertanyakan apakah kesalahan tersebut sebenarnya sudah berlangsung selama puluhan tahun, apakah 50 tahun, 40 tahun, atau 30 tahun, dan menegaskan bahwa hal itulah yang harus ditelusuri untuk memastikan apakah benar telah terjadi kesalahan pada masa tersebut.

Karena itu, dia meminta kritik diarahkan pada penyelesaian masalah jangka panjang, bukan saling menyalahkan antarmenteri.

“Soal pertobatan nasuha ya ayo taubatan nasuha. Semua kita taubatan nasuha, tapi dudukkan perkara pada tempatnya, jangan main jurus pukul rata,” katanya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Piala Dunia, Tim-tim Favorit Lolos ke Fase Gugur  

38 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Piala Dunia, Tim-tim Favori...
PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

PT KAI: Commuter Line lintas Tanjung Priok Mulai Berhenti di Stasiun JIS

23 Jun 2026
Pilihan Pembaca
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
# 7
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
📅 Selasa, 23-Jun-2026
Menanti laporan MSCI, 23 Juni 2026
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.