Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kadin: Ketersediaan Gas Jadi Penentu Ketahanan Energi dan Pangan

📅 Jumat, 05 Des 2025, 15:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Kadin: Ketersediaan Gas Jadi Penentu Ketahanan Energi dan Pangan Doc: Antara
Ket. Pekerja melakukan pengecekan saat uji coba unit Propylene Recovery Unit (PRU) di Kilang Pertamina Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (4/12).

Jakarta - Wakil Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aryo Djojohadikusumo menilai ketersediaan gas semakin strategis dan menjadi penopang tercapainya program prioritas nasional seperti ketahanan energi dan ketahanan pangan.

“Tidak mungkin ada ketahanan pangan tanpa pupuk, dan tidak mungkin ada pupuk tanpa gas,” ujarnya dalam Energy Insights Forum bertajuk Gas Outlook 2026: Powering Energy Resilience with Strong Governance, Jakarta, Jumat (5/12).

Menurut dia, sebagaimana keterangan resmi yang diterima, keberlanjutan pembangunan akan sangat dipengaruhi ketersediaan energi, terutama gas bumi. Karena itu, lanjutnya, perbincangan terkait gas tak bisa lagi dipandang sebagai isu teknis semata.

Di dalam forum tersebut, Aryo mengingatkan bahwa gas akan menjadi seperempat bauran energi dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 10-15 tahun mendatang, terutama untuk menopang hilirisasi industri strategis yang tengah dikejar pemerintah. Ini berarti ketersediaan gas bakal menentukan keberlanjutan sejumlah prioritas pembangunan.

Senada, Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno di kesempatan yang sama, menyampaikan ketahanan energi dan pangan merupakan dua prioritas utama pemerintahan saat ini, memiliki benang merah yang sama dengan komoditas menjadi titik krusial.

Mengingat pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi tinggi, industrialisasi besar-besaran, serta produksi pupuk dan energi yang stabil, ucap Eddy, maka mungkin dicapai apabila pasokan gas aman dan infrastruktur siap.

Direktur Perencanaan Strategis, Portofolio, dan Komersial Pertamina Hulu Energi (PHE) Edy Karyanto menjelaskan bahwa pihaknya memetakan kebutuhan 136 konsumen perjanjian jual beli gas (PJBG), serta proyeksi dari lapangan baru dan yang sedang dikembangkan.

Demand kita 2.600 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day), sementara kapasitas lifting hanya 2 ribu. Tahun ini shorted, 2026 shorted, bahkan sampai 2034,” ujar Edy.

Meskipun secara nasional terlihat potensi oversupply dari project baru, lanjut dia, realitas infrastruktur dan alokasi ekspor membuat pasokan domestik tetap ketat.

“Ada hal-hal yang harus dikolaborasikan, dari kebijakan sampai kesiapan infrastruktur,” kata Edy.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Piala Dunia, Menit 20 Spanyol Mendapat Penalti, 1-0

27 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Piala Dunia, Menit 20 Spany...
Luar Negeri
Dubai Bangun Pelabuhan Baru...
Luar Negeri
Tiongkok Pecat Eks Petinggi...
Luar Negeri
Inggris Sumbang Dana 10 Jut...

Festival Lima Gunung Hadirkan Tari Ujungan yang Amat Memukau

51 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Festival Lima Gunung Hadirk...
Ekonomi
Harga Khusus BBM Nelayan Di...
Harga Khusus BBM Nelayan Ditetapkan Pemerintah

Harga Khusus BBM Nelayan Ditetapkan Pemerintah

15 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.