Daya Saing Ekspor Harus Diperkuat
Kamis, 04 Des 2025, 08:00 WIBPresidensi G20 I Perbedaan Prioritas Negara Anggota G20 Bakal Jadi Dinamika pada 2026
Dengan respons yang adaptif, Indonesia dapat memanfaatkan momentum Presidensi G20 AS sebagai katalis percepatan transformasi ekspor nasional.
JAKARTA â Indonesia perlu memperkuat daya saing ekspornya di tengah dinamika baru pasca pergeseran PresÂidensi G20 ke Amerika Serikat (AS). Sebagai negara dengan pendekatan lebih pragmatis dalam kerja sama ekonomi, AS akan mendorong agenda yang menekankan efisiensi perdaÂgangan, penguatan rantai paÂsok global, serta standar kualiÂtas lebih tinggi.
Situasi ini membuka peluÂang, namun sekaligus menunÂtut kesiapan Indonesia untuk menyesuaikan diri. Penguatan industri manufaktur, diversifiÂkasi produk bernilai tambah, kepastian regulasi, hingga peÂningkatan kualitas logistik menjadi faktor penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi mampu bersaing di pasar gloÂbal yang semakin kompetitif.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas DiponeÂgoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti berharap Indonesia dapat memperkuat kerjasama dengan negara anggota G20, baik dari ekonomi, sosial mauÂpun politik. Selain itu, lanjutÂnya, kualitas produk buatan Indonesia perlu ditingkatkan, sesuai standar negara G20, terÂutama AS.
âDengan itu ke depan InÂdonesia bisa memanfaatkan momen ini untuk pasar ekspor Indonesia baik barang mauÂpun jasa, memperkuat posisi Indonesia agar peran IndoneÂsia lebih penting di dunia interÂnasional,â ucap Esther kepada Koran Jakarta, Rabu (3/12).
Pengamat kebijakan publik Fitra, Badiul Hadi menilai arah awal Presidensi G20 di bawah AS terlihat lebih pragmatis dan berorientasi ekonomi, dengan fokus pada efisiensi regulasi, keamanan energi, dan domiÂnasi inovasi. Tantangannya adalah bagaimana negara lain G20 akan merespons agenda ini. Perbedaan prioritas terÂsebut diprediksi menjadi dinaÂmika utama dalam proses G20 sepanjang 2026.
âPragmatisme itu ditandai dengan dorongan AS untuk memajukan ekonomi global, di mana AS menyatakan akan mendorong pengurangan hambatan regulasi yang diÂanggap menghambat investasi, arus perdagangan, dan aktiviÂtas bisnis lintas negara,â jelas Badiul.
Fokus ini, lanjutnya, sejaÂlan dengan agenda deregulasi internal AS dan upaya menÂdorong kompetisi global yang lebih terbuka. Tanda lainnya, pemerintahan Presiden AS DoÂnald Trump menegaskan penÂtingnya keamanan energi unÂtuk stabilitas ekonomi dunia.
Peluang Investasi
Dia menambahkan AS memprioritasÂkan diversifikasi dan penguatÂan infrastruktur energi sekaligus mendorong inoÂvasi teknologi seperti AI dan bioteknologi. Kebijakan deregulasi AS memÂbuka peluang investasi bagi Indonesia, namun juga dapat menimbulkan tekanan untuk melonggarkan proteksi perdaÂgangan dan menyesuaikan keÂbijakan hilirisasi.
Badiul menilai peluang kerja sama energi kian besar, tetapi minimnya fokus AS pada isu iklim dapat menghambat pendanaan transisi energi seÂperti Just Energy Transition Partnership (JETP). Di sektor teknologi, potensi investasi meningkat, namun standar teknologi AS mungkin menunÂtut penyesuaian regulasi data dan infrastruktur digital, serta menempatkan Indonesia daÂlam situasi sensitif di tengah rivalitas ASâTiongkok.
Dijelaskannya, dalam perdaÂgangan dan geopolitik, dorongÂan liberalisasi AS bisa memeÂngaruhi kebijakan nilai tambah Indonesia. Meski tekanan isu iklim berkurang memberi ruang bagi hilirisasi dan energi fosil transisi, kritik internasioÂnal tetap membayangi.
Seperti diketahui, AS secara resmi meneruskan Presidensi G20 dari Afrika Selatan (Afsel) dan berkomitmen memajuÂkan isu ekonomi selama meÂmimpin kelompok negara dan kawasan dengan perekonoÂmian besar itu.
âEfektif hari ini, 1 Desember 2025, Amerika Serikat menÂjadi pemegang Presidensi G20 2026,â kata Departemen Luar Negeri (Deplu) AS dalam keteÂrangan pers yang dilihat pada Selasa (2/12).
Berita Terkait:
-
Rangkaian Paskah, Umat Katolik Kaltara visualisasikan Jalan Salib
-
Dampak Geopolitik Global, Harga Referensi CPO dan Biji Kakao Kompak Naik di Bulan Mei
-
Pasar Latin Nggak Bisa Diabaikan Lagi: Cili Buktiin Dagang RI Naik 12% Pasca CEPA
-
Bantu Warga, Pemkab Bekasi Distribusikan Ribuan Paket Pangan Subsidi
-
Lidah Warga Tiongkok Mulai Jatuh Hati pada Makanan Olahan RI
-
Gunung Marapi Meletus Sabtu Malam, Warga Diminta Waspadai Abu Vulkanik dan Lahar Dingin
-
G20 Sepakat Bantu Negara-negara Miskin Terdampak Perang Iran
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.