Roket SpaceX Tabrak Bulan Besok, Ilmuwan Prediksi Semburan Debu Raksasa Terlihat dari Teleskop

Rabu, 05 Agu 2026, 13:16 WIB

New Mexico – Tingkat atas (upper stage) roket Falcon 9 milik SpaceX dijadwalkan menabrak permukaan Bulan pada Rabu (6/8) waktu setempat. Tabrakan yang tidak disengaja tersebut dipastikan tidak menimbulkan bahaya bagi Bumi, namun diperkirakan akan membentuk kawah baru di permukaan Bulan.

Para ilmuwan menjelaskan, kombinasi aktivitas Matahari dan gaya gravitasi mengubah lintasan tingkat kedua roket sehingga mengarah ke Bulan.

Ket. Foto: Tingkat kedua (upper stage) roket Falcon 9 milik SpaceX diperkirakan akan menghantam permukaan Bulan dalam sebuah tabrakan yang akan membentuk kawah baru di permukaan satelit alami Bumi tersebut. — Sumber: AFP

Ilmuwan maupun pengamat langit amatir kini menantikan momen tumbukan tersebut, yang diperkirakan akan menghasilkan semburan debu dan material batuan yang dapat terlihat melalui teleskop. Roket diperkirakan menghantam permukaan Bulan sekitar pukul 02.35 waktu Timur Amerika Serikat (06.35 GMT).

"Pengguna teleskop kemungkinan dapat mengamati semburan material yang tercipta akibat tumbukan tersebut," kata peneliti Benjamin Fernando dari Los Alamos National Laboratory, New Mexico, yang merupakan penulis utama studi mengenai peristiwa tersebut.

Fernando mengatakan para peneliti belum mengetahui seberapa terang semburan material itu akan terlihat.

"Belum jelas seberapa terang semburan itu nantinya. Itulah salah satu alasan kami ingin mempelajari peristiwa ini," ujarnya kepada AFP.

Berdasarkan perhitungan para peneliti, setelah seluruh bahan bakarnya habis, tingkat kedua roket Falcon 9 diperkirakan memiliki bobot sekitar 4.000 kilogram.

Roket tersebut diperkirakan menghantam belahan utara Bulan, tepatnya di dekat Kawah Einstein, dengan kecepatan sekitar 8.690 kilometer per jam.

Juru bicara NASA, Jimi Russell, memastikan peristiwa tersebut tidak menimbulkan ancaman bagi Bumi.

"Tidak ada bahaya bagi Bumi," ujar Russell dalam pernyataannya.

Ia mengatakan NASA akan terus melacak lintasan roket tersebut sebagai bagian dari latihan pemantauan, sekaligus mengamati lokasi tumbukan untuk kepentingan penelitian ilmiah.

Roket Falcon 9 diluncurkan pada Januari lalu untuk mengirimkan dua wahana pendarat ke Bulan. Setelah peluncuran, pendorong utama (booster) kembali ke Bumi, sementara tingkat kedua tetap berada di luar angkasa untuk mendorong kedua wahana menuju Bulan.

Direktur Program Sains NASA dan Dragon di SpaceX, Julianna Scheiman, menjelaskan bahwa untuk misi berenergi tinggi seperti ini, SpaceX biasanya melakukan manuver agar tingkat kedua roket berada di lintasan yang aman sesuai aturan yang berlaku.

"Kami telah melakukan itu. Namun kombinasi aktivitas Matahari dan gaya gravitasi akhirnya mengubah lintasannya sehingga mengarah ke Bulan," ujarnya dalam konferensi pers.

Scheiman mengaku antusias menyaksikan hasil pengamatan atas tumbukan tersebut, sebagaimana para ilmuwan lainnya.

Tim peneliti juga mengajak astronom profesional maupun amatir untuk mengamati atau merekam peristiwa tersebut.

Menurut mereka, tumbukan ini menjadi kesempatan penting untuk menguji metode penentuan lokasi tumbukan di permukaan Bulan bagi eksperimen seismik pada masa depan, mempelajari dinamika debu akibat benturan, serta mengevaluasi potensi bahaya sampah antariksa buatan terhadap lingkungan Bulan.

NASA saat ini berupaya membangun kehadiran manusia secara berkelanjutan di Bulan, sehingga pemahaman mengenai dampak sampah antariksa di orbit maupun permukaan Bulan dinilai semakin penting.

Selama ini, Bulan memang rutin dihantam meteoroid alami dari luar angkasa. Namun, tumbukan yang melibatkan objek buatan manusia relatif jarang terjadi.

Pada dekade 1970-an, NASA pernah dengan sengaja menabrakkan sejumlah wahana dalam program Apollo untuk mengumpulkan data seismik dari permukaan Bulan.

  • Roket SpaceX

Redaktur: Andes Tanjung

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.