Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Krisis Ekologis Besar di Depan Mata, Deforestasi Jutaan Hektare Ancam Masa Depan Sumatera

📅 Selasa, 02 Des 2025, 23:59 WIB | Oleh: Tim Redaksi

DAS Krueng Trumon seluas 53.824 hektare telah kehilangan 43 persen tutupan hutannya dalam periode 2016–2022, sehingga kini hanya tersisa 57 persen atau 30.568 hektare.

Direktur Eksekutif Daerah Walhi Aceh, Ahmad Solihin mengatakan banjir yang melumpuhkan sedikitnya 16 kabupaten di Aceh sebagai hasil akumulasi dari deforestasi, ekspansi sawit, hingga Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) yang dibiarkan merajalela.

"Pemerintah gagal menghentikan kerusakan di hulu dan terjadi pembiaran, justru terpaku pada solusi tambal sulam di hilir seperti pembuatan tebing sungai dan normalisasi sungai," ungkapnya.

Di Sumatera Barat, DAS Aia Dingin seluas 12.802 hektare, yang hulu­nya berada di kawasan konservasi Bukit Barisan sebagai benteng ekologis utama, mengalami degradasi parah akibat tekanan aktivitas manusia.

Dalam periode 2001–2024, daerah ini kehilangan 780 hektare tutupan pohon, terutama di wilayah hulu yang berperan penting mencegah banjir bandang.

Menurut Andre Bustamar dari Walhi Sumbar, bencana di Sumbar merupakan akumulasi krisis lingkungan akibat kegagalan pemerintah mengelola sumber daya alam.

“Deforestasi, pertambangan emas ilegal, dan lemahnya penegakan hukum menjadi faktor utama maraknya bencana ekologis,” ujarnya.

Direktur Eksekutif Sustain, Tata Mustasya menilai bencana lingkungan di Sumatera terjadi karena pertemuan cuaca ekstrem dengan menurunnya fungsi ekologis akibat tekanan aktivitas manusia.

Dia menjelaskan kerusakan ekologis berasal dari dua sumber: pertama, aktivitas ekonomi legal seperti perkebunan dan pertambangan yang dijalankan dengan paradigma pembangunan yang keliru; kedua, aktivitas ilegal yang merusak lingkungan.

“Kombinasi keduanya mendorong deforestasi besar yang menimbulkan kerugian sosial-ekonomi luas,” ujarnya. 

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.