75 Tahun Seminari Stella Maris, Para (Mantan) Rektor Buka Kartu
📅 Senin, 01 Des 2025, 19:53 WIB | Oleh: Aloysius Widiyatmaka
Doc: ist
BOGOR -Pada suatu makan malam di ruang makan, di Seminari Stella Maris, Jl Kapten Muslihat, Bogor, Romo Victor Solekase, yang pada waktu itu menjadi perfek, memberi semangat kepada seminaris dengan mengutip Kitab Suci. Bunyi ayat tersebut, “Dan engkau Betlehem, tanah Yehuda, engkau sekali-kali bukanlah yang terkecil di antara mereka yang memerintah Yehuda, karena dari padamulah akan bangkit seorang pemimpin, yang akan menggembalakan umat-Ku Israel," (Mat 2:6).
Maksudnya Pater Victor mau memberi semangat kepada seminaris Stella Maris agar tidak merasa kecil, melihat seminari-seminari lain yang lebih besar. Dari Stella Maris juga akan lahir pemimpin. Benar saja. Banyak imam datang dari Stella Maris, bahkan uskup.
Perjalanan Seminari Stella Maris sangat berliku, tapi dengan berbagai kesulitan dan tantangan, dia tabah dan mampu bertahan sampai usia 75 tahun sekarang. Ya, Seminari Stella Maris baru saja menyelenggarakan ulang tahun ke-75. Dalam konteks ini diadakan pula reuni 75 tahun di seminari Stella Mari Komplek Danau Kahuripan, Bogor.
Banyak kegiatan dilaksanakan dalam suasana kekeluargaan Sabtu dan Minggu (20 dan 30) November, termasuk acara talk show. Dalam acara ini ditampilkan para mantan rektor Seminari Stella Maris.
RD Ridwan Amo, menceritakan bahwa di masanya siswa mencapai lebih dari 100 seminaris. Dia bercanda bahwa para seminaris yang eksis adalah mereka yang jahat. Sebab seminaris yang baik dibuli, lalu tidak tahan dan akhirnya meninggalkan seminari. “Jadi, yang membuli, yang jahat tetap tinggal di seminari, karena yang baik keluar, tak tahan dijahati,” ujarnya, disambut tawa para alumni dan seminaris.
Sebaiknya Anda baca juga:

Para mantan berbicara
RD Paulus Haruno, mengatakan mendapat banyak peninggalan pembangunan seminari yang dilakukan Romo Ridwan. Bongkahan kayu banyak sekali. Dia tak mau ada sarang tikus. Maka, pekerjaan pertama jadi rektor adalah membersihkan sisa-sisa bangunan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Romo Haruno mendidik anak seminari agar mengimitasi dirinya: disiplin, penuh etiket. Dia menanamkan kepada anak-anak agar mempunyai etiket. “Saya kira, saya termasuk rektor yang tidak begitu disenangi seminaris,” candanya. Anak-anak harus disiplin dan mencintai buku.
Romo Haruno selalu lebih dulu membuka pintu kamar di pagi hari. Ini untuk memberitahu, “Saya sudah bangun, kamu juga harus cepat mandi, jangan libur, jangan lambat.” Menurutnya, menjadi rektor adalah menjadi nakhkoda besar untuk anak-anak, guru-guru, dan staf.

Bawah foto-foto mantan rektor
RD Yohanes Suparto, mengaku beruntung karena seminari sudah siap, tak perlu membangun. “Saya dikenal sadis sebagai rektor,” ujarnya. Romo Suparto memberi alasan karena awal menjadi rektor, langsung mengeluarkan 10 seminaris. Mungkin anak-anak kaget, makanya tahun kedua mulai serius. Menurutnya, menjadi seminaris harus menghargai panggilan. “Maka, yang keluar passion-nya tidak ada,” tandasnya.
Romo Suparto menegaskan bahwa bagus-bagus saja anak-anak mengenal teknologi. Tapi harus bertanggung jawab. Hanya, laptop itu, menurutnya, tidak bertanggung jawab karena disertai PS. “Maka, laptop lalu diambil untuk seminari,” kelakarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!