Tindak Lanjut Kasus Ibu Hamil Meninggal di Papua, Kemenkes Prioritaskan Perbaikan di Empat Sektor
📅 Kamis, 27 Nov 2025, 17:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: Antara
Jakarta - Kementerian Kesehatan mengatakan, terdapat empat hal yang menjadi penyebab utama meninggalnya Irene Sokoy beserta bayinya dalam kandungan di Papua, dan pihaknya akan berfokus untuk menangani keempat isu itu agar kasus serupa tidak terjadi kembali.
Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kemenkes Azhar Jaya mengatakan di Jakarta, Kamis (27/11), bahwa berdasarkan investigasi oleh pihaknya, keempat isu itu yakni langkanya dokter spesialis, pemeliharaan sarana dan prasarana yang tidak optimal, prosedur standar yang tidak dijalankan, dan sistem rujukan.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, kekurangan dokter spesialis, seperti obgyn dan anestesi, masih terjadi di luar Jawa. Oleh karena itu, pihaknya membangun sistem pendidikan berbasis rumah sakit dan mengajak putra-putri daerah untuk belajar menjadi spesialis sebagai upaya pemerataan akses layanan kesehatan serta memberikan kesempatan kerja.
"Kemudian poin yang kedua yang penting memang tata kelola rumah sakit, khususnya rumah sakit di daerah itu harus diperbaiki. Kami terus melakukan advokasi ke kepala daerah, bupati, wali kota, gubernur," katanya.
Budi menambahkan, pihaknya sudah menugaskan RS Sardjito untuk mendampingi Provinsi Papua dalam hal disiplin tata kelola dan manajemen RS, contohnya untuk merenovasi sebagian ruang operasi namun tetap menyediakan ruang operasi lainnya agar layanan kesehatan tetap berjalan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dia juga menyoroti pentingnya pendataan untuk mencapai sistem rujukan yang lebih baik.
Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan kepala dinas kesehatan terkait untuk meningkatkan pembinaan dan pengawasan, termasuk untuk memberikan sanksi bagi RS yang melanggar Undang-Undang Kesehatan.
"Karena di Undang-Undang Kesehatan yang baru, sanksinya jelas itu, bagi pimpinan rumah sakit yang tidak melayani pasien di masa kegawatdaruratan. Kan itu harus dilayani. Dan BPJS pun pasti akan membayar. Jadi tidak ada alasan bahwa itu tidak terlayani," katanya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Budi menjelaskan bahwa pihaknya akan memantau hasil investigasi tersebut, dan akan datang tiga bulan lagi ke Papua untuk melihat progres layanan kesehatan di Provinsi Papua.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Mutu Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemenkes Yuli Astuti Saripawan menjelaskan kronologi kasus tersebut.
Awalnya, kata Sari, Irene melakukan pemeriksaan antenatal care (ANC) di puskesmas, dan melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis obgyn.
"Riwayatnya bahwa Ibu ini melahirkan normal sebelumnya, tapi kondisinya bahwa bayinya itu besar, seperti itu," katanya.
Pasien pun pulang, dan tanggal 16 November, Irene datang dengan kondisi sakit, kemudian ingin melahirkan di RS Yowari. Namun demikian, katanya, tidak ada dokter obgyn karena sedang mengikuti seminar di Sulawesi.
Irene pun ditangani oleh bidan, karena dari dua dokter yang bertugas, satu sedang sekolah, dan satunya lagi seminar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!